Rupiah Kembali Melanjutkan Penguatan Pagi Ini, Tinggalkan Level Rp16.900 per Dolar AS
Presiden AS Donald Trump yang mundur dari ancaman tarif Eropa dan mengumumkan kerangka kesepakatan terkait Greenland menjadi faktor utama.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
"Tanda-tanda peningkatan kembali ketegangan antara AS dan Uni Eropa," ujar Ibrahim.
Adapun pada hari ini fokus pasar akan tertuju pada rilis angka Produk Domestik Bruto (PDB), Klaim Pengangguran Awal, dan ukuran inflasi pilihan Fed, Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE).
Dalam Negeri
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai faktornya datang dari optimisme pasar yang memandang pemerintah mampu menangani praktik under invoicing impor dan ekspor, sehingga bisa menutup defisit anggaran negara.
"Praktik ilegal tersebut sudah terjadi secara struktural, sebab melihat nominalnya yang besar hingga ribuan triliun," kata Ibrahim.
Andai saja mampu menggaet 30 persen dari kerugian akibat under invoicing ekspor, pemerintah dinilai mampu menutup defisit anggaran negara.
Under invoicing ekspor turut menjadi penyebab shortfall penerimaan negara.
"Hal ini diyakini terjadi shortfall penerimaan negara pada tahun lalu yang didorong salah satunya oleh under invoicing ekspor," ujar Ibrahim.
Ibrahim bilang, isu under invoicing ekspor sebenarnya sudah lama terjadi, tetapi baru ramai akhir-akhir ini.
Isu tersebut baru ramai setelah terjadi defisit anggaran dalam APBN yang mendekati 3 persen pada 2025, sehingga membuat rupiah terus terkontraksi.
Masalah under invoicing menjadi fokus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa karena pemberantasan praktik ini disebut dapat menjadi tambahan penerimaan bagi Bea Cukai.
Ibrahim pun memprediksi pada perdagangan besok rupiah akan fluktuatif, tetapi ditutup menguat direntang Rp 16.860 - Rp.16.900 per dolar AS.