GDPS Bocorkan Lulusan Paling Banyak Dicari Sektor Aviasi Tahun 2026
GDPS mengelola sekitar 6.500 tenaga kerja untuk 139–140 proyek, tersebar di 93 kota di Indonesia.
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Utama PT Garuda Daya Pratama Sejahtera (GDPS) Cornelis Radjawane mengungkapkan, kebutuhan tenaga kerja di sektor aviasi terus berkembang seiring inovasi, permintaan layanan, serta kemajuan teknologi.
Menurut Cornelis, kompetensi tenaga kerja aviasi saat ini tidak lagi sebatas tugas konvensional. Salah satu contohnya adalah bidang keamanan (security) yang kini memiliki peran jauh lebih kompleks.
"Security sekarang itu bukan tugasnya cuma untuk menjaga keamanan. Tapi di customer kami yang bekerja di aviasi, security itu yang memastikan bahwa barang yang di-deliver kepada customer itu sudah sesuai," kata Cornelis saat wawancara khusus dengan Tribunnews, dikutip Minggu (25/1/2026).
Ia mencontohkan, pada lini bisnis katering penerbangan petugas keamanan memastikan jumlah makanan dan minuman sesuai permintaan maskapai sebelum pesawat dilayani.
Peran ini menuntut ketelitian tinggi dan pemahaman prosedur yang detail.
"Jadi yang core-nya itu selain tukang masak di belakang, ini juga yang memastikan bahwa ini airline A meminta 10 meal, 5 minuman, 10 ini. Itu yang memastikan bahwa terakhir adalah security. Artinya kan sudah tinggi sekali ya. Security bukan lagi seperti yang kita dulu lihat ya," ucap dia.
"Bahwa dia cuma duduk, berdiri, tegap gitu ya. Mengalahkan keadaannya tapi sudah jauh lebih canggih. Itu kompetensi-kompetensi yang berkembang ketika saat ini," sambungnya.
Selain bidang keamanan, GDPS juga masih membutuhkan tenaga di sektor layanan penumpang seperti ticketing, ground handling, dan customer service. Di tengah kemajuan teknologi, Cornelis menilai tidak semua pekerjaan bisa digantikan mesin.
"Misalnya komplain. Nggak mau kan naik pesawat, di komplain, dijawab sama robot. Pasti kan maunya dijawab oleh manusia lagi. Itu juga merupakan salah satu jabatan yang kami isi. Namanya passenger service atau customer service. Ataupun ticketing dan semuanya," tutur dia.
Dari sisi latar belakang pendidikan, Cornelis menyebut GDPS membuka peluang luas, mulai dari lulusan SMA, D3 hingga S1. Perusahaan juga menyediakan pelatihan bagi tenaga kerja yang masih fresh graduate.
"Ada yang memang ketika di-hire masih fresh, kemudian mendapat training, kemudian masuk. Ada juga yang memang butuh kontroling yang panjang."
Baca juga: Kerjasama dengan Binawan, Kemenkes Targetkan 2.000 Tenaga Kesehatan RI Bekerja di Luar Negeri
"Biasanya kalau kontroling yang panjang kami tidak sediakan karena itu cukup mahal biayanya. Karena orang mau cepat. Kami sediakan yang lebih praktis," tegas dia.
Saat ini, GDPS mengelola sekitar 6.500 tenaga kerja untuk 139–140 proyek, tersebar di 93 kota di Indonesia. Selain di dalam negeri, GDPS juga mulai menyalurkan tenaga kerja aviasi ke luar negeri.
Cornelis menyebut, sebagian dari tenaga kerja yakni tenaga ahli perawatan mesin pesawat telah dikirim ke Uni Emirat Arab (Dubai). Selain itu, GDPS juga mengirim engineer dan manajer ke Papua Nugini.
Baca juga: Rekrutmen Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Penugasan Khusus Periode II 2025 Kemenkes, Cek Syaratnya
"Kami juga mengirim walaupun jumlahnya belum banyak untuk tenaga aviasi keluar. Kami sudah kirim ke UAE, ke Dubai untuk tenaga ahli di bidang perawatan engine pesawat. Kami sudah mengirim juga ke Papua New Guinea. Itu engineer dan manager. Kami sudah mengirim juga kami sudah mempersiapkan untuk mengirim ke Singapura, Korea," tutur dia.
Terkait penempatan tenaga kerja ke luar negeri, Cornelis memastikan proses tersebut tetap mengikuti skema resmi, baik melalui P3MI, P2MI, maupun jalur mandiri sesuai ketentuan yang berlaku.
"Kan ada skemanya ya. Ada P3MI, ada P2MI, ada yang mandiri. Ada yang masing-masing," ungkap Cornelis.
Baca tanpa iklan