Harga Emas Pekan Depan Berpeluang Tembus 5.100 Dolar AS
Harga emas dunia dan logam mulia masih berpotensi bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan.
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Harga emas dunia dan logam mulia masih berpotensi bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan.
- Jika harga emas dunia mengalami koreksi, penurunan pertama diperkirakan terjadi ke level 4.960 dolar AS per troy ounce dan harga logam mulia turun ke Rp2.852.000.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga emas dunia dan logam mulia masih berpotensi bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, pada penutupan perdagangan Sabtu pagi, harga emas dunia berada di level 4.985 dolar AS per troy ounce.
Ini menjadi level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, harga logam mulia di dalam negeri dipatok di kisaran Rp2.887.000.
Menurut dia, jika harga emas dunia mengalami koreksi, penurunan pertama diperkirakan terjadi ke level 4.960 dolar AS per troy ounce dan harga logam mulia turun ke Rp2.852.000.
Namun, Ibrahim menilai peluang kenaikan masih cukup besar. Jika harga emas dunia menguat, pada awal pekan depan diperkirakan bisa menyentuh level 5.020 dolar AS per troy ounce, dengan harga logam mulia naik ke sekitar Rp2.992.000.
"Jadi kemungkinan ada kenaikan Rp 35.000. Kemudian kalau naik lagi resisten kedua itu di 5.100 dolar per try on. Wow, luar biasa ya ada kemungkinan besar ke 5.100 Sampai hari Sabtu. Kemudian harga logam mulianya itu di Rp3.092.000."
"Jadi sepertinya tidak mencapai di Rp3.100.000 Tapi di Rp3.092.000 itu adalah akhir bulan Februari," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini Minggu, 25 Januari 2026, Stagnan di Level Rp2.887.000 per Gram
Ibrahim menjelaskan, pergerakan harga emas dunia dan logam mulia dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama, antara lain kondisi geopolitik global, perang dagang, dinamika politik Amerika Serikat, serta faktor supply dan demand.
Dari sisi geopolitik, ketegangan global masih menjadi sentimen utama meskipun isu Greenland sempat mereda.
Hubungan Amerika Serikat dan Uni Eropa dinilai masih memanas, terutama terkait sikap Eropa yang menolak bergabung dalam sejumlah inisiatif perdamaian yang diprakarsai Amerika, termasuk konflik Rusia-Ukraina dan Gaza.
"Saya melihat bahwa pada saat Trump memprakarsai perdamaian untuk Uni Eropa, memprakarsai perdamaian untuk Gaza, negara-negara Eropa tidak mau bergabung. Ya walaupun sudah ada satu kesepakatan tentang masalah Greenland," ucap Ibrahim.
"Tetapi pemimpin-pemimpin Uni Eropa sampai saat ini masih memanas hubungannya dengan Amerika terbukti Dengan Dewan ini untuk gencatan senjata di Eropa, Rusia, Ukraina, mereka pun juga menolak bergabung Kemudian di jalur Gaza pun juga mereka menolak bergabung, itu yang pertama," sambungnya.
Baca juga: Indonesia Emas 2045 Dimulai dari Pemenuhan Gizi yang Berkeadilan
Selain itu, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar, menyusul pergerakan armada laut Amerika Serikat dan peringatan keras Presiden AS Donald Trump terkait isu Israel-Iran dan pengembangan nuklir.
Dari sisi perang dagang, meski sudah ada kesepakatan tertentu antara Amerika dan Eropa, Ibrahim menilai potensi ketegangan masih ada karena rencana penerapan tarif dagang sebesar 15 persen yang dijadwalkan berlaku pada Februari.
Baca tanpa iklan