Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Rupiah Menguat di Level Rp 16.768 per Dolar AS Selasa Sore, Ini Faktor Pendorongnya

Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 14 point sebelumnya sempat melemah 20 point di level Rp.16.768

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Nitis Hawaroh
Editor: Sanusi
zoom-in Rupiah Menguat di Level Rp 16.768 per Dolar AS Selasa Sore, Ini Faktor Pendorongnya
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (27/1/2026), meski indeks dolar AS justru menunjukkan penguatan di pasar global. 

Ringkasan Berita:
  • Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 14 poin
  • Penguatan dolar AS dipengaruhi oleh fokus pelaku pasar terhadap hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (27/1/2026), meski indeks dolar AS justru menunjukkan penguatan di pasar global.

Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 14 point sebelumnya sempat melemah 20 point di level Rp.16.768 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.782. 

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp. 16.760- Rp.16.790," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Selasa.

Baca juga: Purbaya: Penguatan Rupiah Bukan Faktor Terpilihnya Thomas, Tapi Peran BI

Ibrahim menjelaskan penguatan dolar AS dipengaruhi oleh fokus pelaku pasar terhadap hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang berlangsung selama dua hari dan dijadwalkan berakhir pada Rabu waktu setempat.

“Pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah sebelumnya melakukan tiga kali pemangkasan suku bunga secara beruntun,” ujar Ibrahim.

Rekomendasi Untuk Anda

Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada memanasnya hubungan Presiden AS Donald Trump dengan Ketua The Fed Jerome Powell. Perselisihan tersebut memicu kekhawatiran investor terkait independensi bank sentral AS dari intervensi politik.

Dari sisi geopolitik dan kebijakan fiskal AS, kekhawatiran penutupan pemerintahan (government shutdown) kembali mencuat. Hal ini menyusul ancaman anggota Senat dari Partai Demokrat yang berencana memblokir rancangan undang-undang pendanaan pemerintah. Tenggat waktu untuk menghindari shutdown jatuh pada 30 Januari 2026.

"Pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah tiga kali pemotongan berturut-turut dalam pertemuan sebelumnya," ungkap dia.

Ketidakpastian global juga diperparah oleh sikap proteksionis Presiden Trump. Setelah menarik kembali ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa, Trump justru mengancam akan memberlakukan tarif tinggi terhadap sejumlah sekutu AS, termasuk Kanada dan Korea Selatan. 

Baca juga: Pagi Ini Rupiah Menguat 0,12 Persen ke Rp 16.803 Per Dolar AS

Bahkan, Trump mengancam tarif hingga 100 persen terhadap Kanada serta tarif 25 persen untuk barang-barang asal Korea Selatan.

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran dan kawasan Timur Tengah, seiring kehadiran kapal-kapal militer AS, turut membuat pasar keuangan global bergerak hati-hati.

"Pasar tetap waspada terhadap langkah-langkah lebih lanjut dari Trump. Ketegangan geopolitik yang meningkat di Iran dan Timur Tengah, seiring kedatangan kapal-kapal AS di wilayah tersebut, juga membuat pasar tetap waspada," tegas Ibrahim.

Dari faktor domestik, Ibrahim menyoroti tantangan pembiayaan utang pemerintah pada 2026. Pemerintah diperkirakan harus menarik utang baru secara bruto hingga Rp1.650 triliun, meski target pembiayaan utang neto dalam RAPBN 2026 sebesar Rp832,21 triliun.

Baca juga: Pengamat: Thomas Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI Tak Berdampak Signifikan Terhadap Rupiah 

"Risiko utama yang mengemuka adalah risiko pembiayaan kembali (refinancing risk). Risiko ini menguat seiring dengan memendeknya tren rata-rata jatuh tempo utang (Average Time to Maturity/ATM), dari 9,73 tahun pada 2014 menjadi prakiraan 7,7 tahun pada 2026," ujar Ibrahim.

"Artinya, risiko tidak dapat melakukan pembiayaan kembali atas utang yang jatuh tempo atau adanya potensi biaya utang yang tinggi pada saat refinancing," sambungnya.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas