Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Pergerakan IHSG Pagi Ini Anjlok 2 Persen Lebih ke Level 5.969

Data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka pukul 09.00 WIB ambles ke level 6.065,63 dari posisi penutupan kemarin 6.094,94.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Pergerakan IHSG Pagi Ini Anjlok 2 Persen Lebih ke Level 5.969
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
SAHAM ANJLOK - Pengunjung beraktivitas di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. IHSG dibuka pukul 09.00 WIB ambles ke level 6.065,63 dari posisi penutupan kemarin 6.094,94. 

Ringkasan Berita:
  • IHSG pada perdagangan Jumat pagi anjlok lebih dari 2 persen hingga turun ke bawah level 6.000, melanjutkan pelemahan tajam sehari sebelumnya.
  • Pasar dibayangi sentimen negatif dari pelemahan rupiah, konflik geopolitik AS-Iran, kenaikan suku bunga menjadi 5,25 persen, serta arus keluar dana asing.
  • Investor juga mencermati kebijakan pemerintah yang mewajibkan ekspor komoditas SDA dilakukan melalui BUMN sebagai pengekspor tunggal.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (22/5/2026) pagi anjlok 2 persen lebih.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka pukul 09.00 WIB ambles ke level 6.065,63 dari posisi penutupan kemarin 6.094,94.

Pukul 09.02 WIB, IHSG sudah terjun 2,05 persen atau 125,25 poin ke level 5.969,69.

Baca juga: Investor Ritel Nangis Sahamnya Makin Ambles

Dalam dua menit perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 5.966,86 hingga 6.071,69.

Ada 482 saham melemah, 84 saham menguat, dan 393 saham stagnan.

Rekomendasi Untuk Anda

Tercatat, pada perdagangan Kamis (21/5/2026), IHSG ditutup anjlok 3,54 persen ke level 6.094,94.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, sentimen pasar masih akan dipengaruhi oleh pergerakan rupiah, arus dana asing, perkembangan konflik geopolitik Amerika Serikat (AS)-Iran, serta respons pasar terhadap kebijakan ekonomi domestik.  

"Pasar juga akan mencermati stabilitas harga minyak dunia serta arah yield obligasi AS yang masih menjadi indikator penting bagi aliran dana global ke emerging market," ujarnya.

Dalam jangka pendek, lanjut Hendra, investor sebaiknya mulai fokus pada saham-saham defensif dan emiten dengan fundamental kuat yang relatif tahan terhadap tekanan eksternal.  

"Tekanan utama datang dari kombinasi sentimen domestik dan global," tukas Hendra.

Dari dalam negeri, pasar merespons negatif meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam yang dinilai dapat memperpanjang birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor nasional.  

Investment Specialist KISI, Azharys Hardian sebelumnya menyampaikan, pelemahan IHSG dipicu kejutan kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, yang berada di atas konsensus pasar. 

"Langkah ini memang menjadi dilema tersendiri bagi pemerintah; di satu sisi efektif untuk menahan pelemahan rupiah, namun di sisi lain langsung memberikan tekanan bagi pasar ekuitas," ujar Azharys .

Menurutnya, sentimen negatif ini makin diperberat oleh kekhawatiran pasar terkait detail skema ekspor BUMN yang belum jelas.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas