IHSG Ambles 7 Persen, Apa yang Perlu Dilakukan Investor?
Analis menilai koreksi tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- IHSG anjlok lebih dari 7 persen pada sesi pertama dipicu kebijakan MSCI terkait peninjauan indeks Indonesia.
- Analis menilai koreksi tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
- Investor diimbau tidak panik dan mempertimbangkan strategi buy on dip sebagai peluang investasi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (28/1/2025), dibuka melemah ke level 8.393,51 atau turun lebih dari 6 persen.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada penutupan sesi pertama, IHSG merosot 7,34% atau terpangkas 659 poin ke level 8.321,21.
Sejumlah analis menyebutkan pelemahan IHSG ini dipengaruhi pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Baca juga: Kenapa Pengumuman MSCI Bikin Saham-saham di RI Rontok? IHSG Berakhir Anjlok 7,34 Persen
MSCI mengumumkan penerapan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam proses peninjauan indeks.
MSCI menjelaskan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko investability serta memberikan ruang bagi otoritas pasar Indonesia dalam melakukan penguatan pada sejumlah aspek yang dinilai masih perlu ditingkatkan, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham.
Mencermati pergerakan IHSG dan sentimen yang memengaruhinya, para analis mengimbau investor agar tidak panik dan justru memanfaatkan kondisi ini sebagai peluang.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, memandang situasi ini dapat dilihat sebagai momentum perbaikan, bukan semata-mata sebagai ancaman.
“Pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang kuat, jumlah investor domestik yang terus bertumbuh, fundamental ekonomi yang relatif solid, serta emiten dengan kualitas bisnis yang kompetitif secara regional,” ucapnya, Rabu (28/1/2025).
Di samping itu, ia menekankan tantangan ke depan adalah memastikan infrastruktur regulasi, transparansi data, dan konsistensi kebijakan mampu mengimbangi kemajuan tersebut.
Menurut David, koreksi IHSG hari ini sebaiknya dipahami sebagai refleksi dari proses penyesuaian pasar terhadap informasi baru.
Lebih jauh, situasi ini juga memberikan kesempatan bagi pasar modal Indonesia untuk melakukan penguatan struktural yang berpotensi memberikan dampak positif dalam jangka panjang.
“Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya status Indonesia sebagai Emerging Market yang dapat dipertahankan, tetapi kualitas pasar modal nasional justru dapat meningkat dan semakin dipercaya oleh investor global,” tambahnya.
Hal yang sama juga disampaikan, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta.
Ia menilai, pelemahan IHSG hari ini kurang mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini masih solid.
Baca tanpa iklan