Soal Saham Gorengan, CIO Danantara Pandu Sjahrir: Bursanya Harus Dibenahi
Pelaku pasar tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas munculnya saham gorengan di bursa saham Indonesia.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Pelaku pasar tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas saham gorengan di bursa saham Indonesia.
- Dalam penilaian lembaga global seperti MSCI, fenomena tersebut kerap disebut sebagai uninvestability atau tidak layak investasi.
- Danantara hanya masuk ke saham-saham perusahaan yang memiliki fundamental kuat, tata kelola yang baik, valuasi menarik, serta likuiditas yang bagus.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menilai pelaku pasar tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas saham gorengan di bursa saham Indonesia. Menurut dia, persoalan utama justru bursanya yang perlu diperbaiki.
"Don't hate the player, hate the game. Jadi juga enggak bisa disalahkan para pemain, misalnya hanya issuer atau apa, yang harus diperbaiki memang kita sebagai bursa ataupun kita tuh harus bisa lebih baik lagi," kata Pandu kepada wartawan di Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Ia menjelaskan, istilah saham gorengan lebih banyak muncul dari sudut pandang investor domestik.
Dalam penilaian lembaga global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI), fenomena tersebut kerap disebut sebagai uninvestability atau tidak layak investasi.
Saham disebut tidak layak investasi karena memiliki valuasi yang dinilai terlalu tinggi, baik dari sisi enterprise value to sales, enterprise value to EBITDA, maupun price to earning ratio.
Valuasi yang melonjak jauh di atas kewajaran itu kerap menimbulkan tanda tanya di kalangan investor asing.
"Kebanyakan memang masukan-masukan dari investor-investor asing yang merasa kok ini bisa valuasi price to earning bisa sampai ribuan lebih. Jadi sebenarnya kalau disebut saham gorengan itu ke sana," ujar Pandu.
Baca juga: Menko Airlangga Tegaskan Pemerintah Tak Tolerir Praktik Manipulatif Saham Gorengan
Pandu menegaskan Danantara juga berinvestasi di bursa saham Indonesia. Danantara hanya masuk ke saham-saham perusahaan yang memiliki fundamental kuat, tata kelola yang baik, valuasi menarik, serta likuiditas yang bagus.
Pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami dua kali trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham.
Pada awal perdagangan sesi kedua Rabu (28/1/2026), IHSG ambruk 8 persen ke posisi 8.261,79 pukul 13:42 WIB.
Baca juga: Demutualisasi BEI, Danantara Hitung Porsi Saham yang Bisa Dikuasai
Pada Kamis (29/1/2026) pagi, BEI kembali memberlakukan trading halt pukul 09.59 WIB setelah IHSG ambles 835,20 poin atau setara 10,04 persen ke level 7.485,35.
Sementara itu, pada Senin pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 4,49 persen atau 374,17 poin ke level 7.955,44 pada Senin (2/2/2026) pagi pukul 09.15 WIB.
Berdasarkan pantauan dari papan di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Volume perdagangan tercatat mencapai 10,582 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 6,18 triliun.
Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 669.713 kali. Soal Saham Gorengan, CIO Danantara Pandu Sjahrir Nilai Pemain Tak Bisa Disalahkan, Bursanya yang Harus Dibenahi