Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Wamen PPN: RI Produksi Banyak Riset Ilmiah, tapi Kecil yang Diadopsi Industri

Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menyoroti masih rendahnya pemanfaatan hasil riset ilmiah oleh industri di Indonesia.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Wamen PPN: RI Produksi Banyak Riset Ilmiah, tapi Kecil yang Diadopsi Industri
ISTIMEWA
Menurut Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Wamen PPN)/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, Indonesia sebenarnya menghasilkan cukup banyak riset dan keluaran ilmiah dari kalangan akademisi. Namun, hanya sebagian kecil yang benar-benar diadopsi oleh pelaku industri. 

Ringkasan Berita:
  • Hasil riset dan inovasi seharusnya masuk ke sektor ekonomi riil agar mampu meningkatkan efisiensi, daya saing, serta pendapatan nasional
  • Peran pemerintah adalah menetapkan arah kebijakan dan menghilangkan berbagai hambatan yang menghalangi produktivitas

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Wamen PPN)/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menyoroti masih rendahnya pemanfaatan hasil riset ilmiah oleh industri di Indonesia.

Menurut Febrian, Indonesia sebenarnya menghasilkan cukup banyak riset dan keluaran ilmiah dari kalangan akademisi.

Namun, hanya sebagian kecil yang benar-benar diadopsi oleh pelaku industri.

Baca juga: Bappenas dan Prasasti Soroti Kondisi Pertumbuhan Ekonomi, Tekankan Pentingnya Infrastruktur Sosial

"Indonesia menghasilkan cukup banyak riset dan keluaran ilmiah," katanya dalam acara Indonesia Economic Summit di Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026).

"Namun, hanya sebagian kecil dari pengetahuan tersebut yang diadopsi oleh industri, dikembangkan menjadi produk, atau diintegrasikan ke dalam proses bisnis," jelasnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menilai kondisi ini menjadi tantangan serius karena Indonesia tidak cukup hanya berhenti pada produksi riset ilmiah.

Hasil riset dan inovasi seharusnya masuk ke sektor ekonomi riil agar mampu meningkatkan efisiensi, daya saing, serta pendapatan nasional.

Febrian memandang kunci utamanya adalah peningkatan produktivitas yang bisa dilakukan pelaku usaha.  

Baca juga: Ditopang Ekonomi Domestik, PMI Manufaktur RI Januari 2026 Naik ke 52,6

Ia menegaskan produktivitas sejatinya terjadi di pabrik, perkantoran, hingga gudang.

Sementara itu, peran pemerintah adalah menetapkan arah kebijakan dan menghilangkan berbagai hambatan yang menghalangi produktivitas.

Pemerintah, lanjut Febrian, menciptakan lingkungan yang menghargai produktivitas melalui regulasi yang dapat diprediksi, implementasi yang konsisten, serta institusi yang fokus pada hal-hal esensial.

Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan produktivitas akan terwujud ketika dunia usaha berani merancang ulang cara kerja mereka.

Baca juga: Menperin Sarankan PMI S&P Global Hanya Jadi Indikator Pendukung, IKI Disebut Lebih Akurat

Perusahaan yang menguasai produktivitas dinilai akan tumbuh lebih cepat, lebih tahan terhadap guncangan, dan lebih percaya diri saat bersaing di dalam maupun luar negeri.

"Sektor swasta memimpin dalam adopsi teknologi dan investasi. Dunia akademik berkontribusi melalui riset, keterampilan, dan inovasi. Pekerja, pemerintah daerah, dan komunitas menerjemahkan upaya ini menjadi hasil nyata," ucap Febrian. 

"Transformasi produktivitas hanya akan berhasil jika seluruh aktor ini bergerak bersama," sambungnya. 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas