Rupiah Menguat ke Rp 16.754 per Dolar AS Pada Selasa 3 Februari
Pada perdagangan Selasa (3/2/2026) sore, rupiah menguat 44 poin ke Rp 16.754 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.798.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Rupiah menguat seiring dengan penguatan indeks dolar AS
- Perdagangan besok mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pada perdagangan Selasa (3/2/2026) sore, rupiah menguat 44 poin ke Rp 16.754 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.798.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi mengungkap bahwa rupiah menguat seiring dengan penguatan indeks dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas itu pun memperkirakan besok rupiah akan melemah.
Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Selasa Pagi Menguat 36 Poin di Level Rp 16.762 Per Dolar AS
"Perdagangan besok mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 16.750-16.780," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis pada Selasa ini.
Ada sejumlah faktor eksternal yang membuat rupiah menguat pada hari ini. Pertama datang dari persoalan geopolitik yang melibatkan AS dan Iran.
AS dan Iran tengah berdiskusi seputar nuklir. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan perbicangan ini harus terus berjalan guna mengamankan kepentingan negaranya.
Faktor kedua adalah AS yang memangkas tarif impor barang-barang India menjadi 18 persen dari 50 persen.
Pemangkasan tarif tersebut sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia oleh India dan penurunan hambatan perdagangan.
Selain itu, India telah setuju membeli minyak dari AS dan mungkin juga Venezuela.
Faktor ketiga adalah penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) oleh Presiden AS Donald Trump.
"Meskipun nominasi tersebut menghilangkan poin ketidakpastian utama bagi pasar, mengurangi permintaan aset aman, Warsh juga dipandang sebagai pilihan yang kurang lunak daripada yang diharapkan pasar," ujar Ibrahim.
Warsh disebut mendukung tuntutan Donald Trump untuk suku bunga yang lebih rendah.
Namun, Warsh juga juga mengkritik aktivitas pembelian aset The Fed dan menyerukan neraca yang lebih kecil.
Faktor Dalam Negeri
Dari dalam negeri, faktornya adalah S&P Global Market Intelligence yang mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 52,6 pada Januari 2026.
Angka tersebut naik dari level 51,2 pada Desember 2025.
Ibrahim mengatakan kenaikan tergolong sedang dan pertumbuhan terus meningkat dengan indeks di atas 50.
"Kenaikan itu didorong oleh peningkatan berkelanjutan pada output dan permintaan baru," ucap Ibrahim.