Rupiah Melemah, Tekanan Eksternal AS-Iran Jadi Sorotan Meski Sentimen Domestik Positif
Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (10/2/2026) seiring meningkatnya tekanan eksternal global
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Pelemahan rupiah tidak lepas dari dinamika global, terutama melemahnya indeks dolar AS yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik
- Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting dari negara konsumen minyak terbesar dunia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (10/2/2026) seiring meningkatnya tekanan eksternal global, meski di dalam negeri sentimen politik dan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tetap kuat.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari dinamika global, terutama melemahnya indeks dolar AS yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Bank Indonesia Yakin Rupiah Makin Menguat, Tak Lagi Dekati Rp17.000 per Dolar AS: Ayo Jaga Bersama
"Departemen Transportasi Amerika Serikat melalui Administrasi Maritim sebelumnya mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal berbendera AS agar menjauhi wilayah Iran saat melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman," ungkap Ibrahim melalui keterangan tertulis, Selasa (10/2/2026).
Kapal-kapal tersebut diminta tetap berada dekat wilayah Oman karena adanya risiko gangguan keamanan dari pasukan Iran.
Peringatan itu kembali memunculkan kekhawatiran pasar atas hubungan AS dan Iran yang masih tegang, meskipun kedua negara mencatat kemajuan dalam pembicaraan terkait program nuklir Teheran.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting dari negara konsumen minyak terbesar dunia.
Di Amerika Serikat, data penggajian non-pertanian Januari dijadwalkan rilis pada Rabu, disusul data inflasi indeks harga konsumen pada Jumat.
Data tersebut diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga AS, terlebih di tengah transisi kepemimpinan di Federal Reserve.
Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp 16.805 Per Dolar AS Pada Senin Sore 9 Februari
Dari Asia, perhatian tertuju pada rilis data inflasi (CPI) Tiongkok yang akan diumumkan Jumat, menjelang libur panjang Tahun Baru Imlek.
Permintaan energi dan bahan bakar di Negeri Tirai Bambu diperkirakan meningkat selama periode liburan, sehingga turut menjadi pertimbangan pasar komoditas dan mata uang.
Sentimen Domestik Positif
Di sisi domestik, sentimen internal dinilai relatif positif. Survei terbaru Indikator Politik Indonesia mencatat tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,9 persen setelah 17 bulan memimpin.
"Jumlah itu bahkan memecahkan rekor tingkat keterpilihan atas presiden-presiden sebelumnya. Saat SBY menang di periode kedua pada 2009, kisarannya tak sampai 70 juta pemilih. Pun demikian saat Jokowi memenangi pilpres keduanya pada 2019, perolehan suaranya masih lebih kecil dari Prabowo," ucap Ibrahim.
Tingginya kepuasan publik tersebut antara lain didorong oleh persepsi keseriusan pemerintah dalam memberantas korupsi, aksi bantuan sosial, program kerja yang dinilai berjalan baik dan ketegasan kepemimpinan Prabowo.
Selain itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga dinilai menjadi salah satu faktor yang menopang kepuasan masyarakat.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 7 point, sebelumnya sempat menguat 20 point dilevel Rp 16.812 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.805," terangnya.
Untuk perdagangan Rabu (11/2/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.810 hingga Rp16.840 per dolar AS.
Baca tanpa iklan