Rupiah Ditutup Menguat Rabu Sore, Dipicu Paket Stimulus Ekonomi 2026
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (11/2/2026) sore.
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Rupiah menguat 25 poin ke level Rp 16.786 per dolar AS
- Penguatan rupiah dari dalam negeri ditopang oleh kebijakan pemerintah yang meluncurkan Paket Stimulus Ekonomi Kuartal I
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (11/2/2026) sore.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan rupiah menguat 25 poin ke level Rp16.786 per dolar AS.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 25 point sebelumnya sempat menguat 50 point dilevel Rp.16.786 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.812," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu.
Baca juga: Rupiah Melemah, Tekanan Eksternal AS-Iran Jadi Sorotan Meski Sentimen Domestik Positif
Untuk perdagangan Kamis (12/2/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.780 hingga Rp16.810 per dolar AS.
Penguatan rupiah dari dalam negeri ditopang oleh kebijakan pemerintah yang meluncurkan Paket Stimulus Ekonomi Kuartal I-2026 menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Paket tersebut mencakup diskon transportasi, kebijakan work from anywhere (WFA), bantuan pangan.
Pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng per bulan yang diberikan sekaligus untuk dua bulan. Program ini menyasar 35,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dari kelompok desil 1–4.
Menurut Ibrahim, kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026.
Baca juga: Bank Indonesia Yakin Rupiah Makin Menguat, Tak Lagi Dekati Rp17.000 per Dolar AS: Ayo Jaga Bersama
"Dengan kebijakan yang dirumuskan pemerintah ini dapat menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga bisa mendongkrak Produk Domestic Bruto (PDB) di kuartal pertama lebih baik dibandingkan kuartal keempat tahun 2025," tutur dia.
Dari sisi global, indeks dolar AS melemah setelah data penjualan ritel Amerika Serikat pada Desember tercatat lebih rendah dari perkiraan. Data tersebut menunjukkan adanya perlambatan belanja konsumen di tengah tekanan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.
Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve berpotensi kembali memangkas suku bunga untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS pun turun, sehingga dolar AS kesulitan menguat.
"Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun karena anggapan ini, sementara dolar kesulitan untuk pulih dari kerugian besar yang tercatat pada hari Senin," tegas Ibrahim.
Selain itu, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian pasar, termasuk pembicaraan nuklir antara Iran dan AS yang kembali dibuka melalui jalur diplomasi di Oman. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah, yang menimbulkan kekhawatiran baru di pasar global.
Baca tanpa iklan