Bos BI Beber Pemicu Pelemahan Rupiah Hampir Dekati Rp 17.000 per Dolar AS
BI mengoptimalkan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan SBN untuk menarik portofolio asing untuk menjaga kurs rupiah.
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 19 Februari 2026.
- Bank Indonesia terus meningkatkan intervensi ke pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.
- BI mengoptimalkan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menarik portofolio asing.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membeberkan pemicu pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kurs rupiah melemah tajam pada Rabu (18/2). Kurs rupiah spot melemah Rp 47 atau 0,28 persen menjadi Rp 16.884 per dolar AS dari penutupan perdagangan kemarin. Jika dibandingkan dengan posisi Jumat (13/2), kurs rupiah juga melemah 0,28 persen atau Rp 48 dari Rp 16.836 per dolar AS.
Perry menjelaskan, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi dua faktor utama, yakni faktor fundamental dan faktor teknikal.
Dari sisi fundamental, indikator ekonomi Indonesia seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta imbal hasil dinilai masih baik.
"Pertanyaannya tentu saja faktor-faktor teknikal, faktor-faktor premi risiko yang khususnya terjadi di global, memang kelihatan faktor-faktor ini yang memang menimbulkan tekanan-tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar," ujar Perry saat Konferensi Pers RDG secara virtual, Kamis (19/2/2026).
Perry menyebut, Bank Indonesia terus meningkatkan intervensi ke pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Intervensi dilakukan baik di pasar luar negeri melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) maupun di pasar domestik melalui transaksi spot.
Selain itu, BI juga mengoptimalkan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menarik aliran investasi portofolio asing.
Baca juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.894 per Dolar AS, Imbas Ketegangan Timur Tengah dan Sikap The Fed
"Dan alhamdulillah selama dua bulan ini investasi portofolio asing terus masuk, sudah ada net flow dan itu akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," tegas Perry.
Perry optimistis, dengan fundamental ekonomi yang solid serta masuknya aliran modal asing, nilai tukar rupiah ke depan akan bergerak lebih stabil dan cenderung menguat sesuai kondisi fundamentalnya.
"Dan tentu saja ini terus kita lakukan bahwa dengan keyakinan ke depan nilai tukarnya akan stabil dan cenderung menguat mengarah kepada fundamental," ucap Perry.
"Kami, terus akan memastikan menjaga stabilitas nilai tukar dan untuk mendukung stabilitas perekonomian kita. Barangkali itu adalah yang kita lakukan," imbuhnya menegaskan.
Baca tanpa iklan