Imbas Konflik Iran vs AS, Bursa Saham di Asia Kompak Bertumbangan
Konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran guncangan pasokan energi yang berpotensi mengerek inflasi serta menunda rencana pemangkasan suku bunga.
Penulis:
Bobby W
Editor:
Sri Juliati
Boey menilai terkoreksinya indeks saham Asia secara dalam merupakan respons investor yang kini mulai memperhitungkan skenario harga minyak yang akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
"Memang terlihat seperti konflik akan berlangsung sedikit lebih lama daripada yang orang pikirkan pada awalnya. Dan ada eskalasi, karena perang sekarang meluas hingga mencakup sekutu AS. Infrastruktur minyak tampaknya sedang diserang, sehingga orang harus memikirkan berapa lama hal itu akan berlangsung," ungkap Boey.
Tanggapan juga diberikan oleh Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana, AS.
Dikutip dari Reuters, Chuck menjelaskan titik krusial yang dihadapi pasar saat ini.
"Isu terbesar yang sedang dipertimbangkan investor kembali ke keterkaitan antara inflasi dan suku bunga. Apakah harga energi akan tetap tinggi lebih lama daripada yang dipikirkan orang kemarin, dan kemudian apakah hal itu akan tersalurkan?"
Dampak ekonomi juga terasa di daratan Eropa, di mana mata uang Euro merosot di bawah akibat prediksi bahwa kawasan tersebut akan menanggung beban biaya energi yang sangat besar.
Harga gas acuan Eropa dilaporkan juga melonjak sekitar 65 persen hanya dalam kurun waktu dua hari.
Sementara itu di pasar komoditas, harga emas turun sekitar 4,5 persen sementara dolar Australia melemah 0,8 persen karena para pelaku pasar memilih mencairkan keuntungan guna menutupi kerugian di sektor lain di tengah volatilitas pekan ini.
Pada awal sesi perdagangan Asia, emas mulai stabil di posisi $5.128 per ounce atau setara dengan Rp2,67 juta per gram.
Sementara itu, bursa berjangka AS dan Eropa mencoba untuk bangkit, di mana futures S&P 500 bergerak datar dan futures Eropa tercatat naik 0,8 persen.
Bursa Wall Street juga mengalami tekanan, dengan indeks S&P 500 ditutup melemah 0,8 persen.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan