Chandra Asri Siapkan Mitigasi Risiko Dampak Penutupan Selat Hormuz
Sebagai jalur strategis distribusi energi dan bahan baku global, penutupan Selat Hormuz, memicu gangguan logistik di berbagai negara
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Chandra Asri menegaskan Perseroan telah menyiapkan sistem manajemen pasokan dan perencanaan operasional yang dirancang untuk menghadapi dinamika global
- Sebagai jalur strategis distribusi energi dan bahan baku global, penutupan Selat Hormuz, memicu gangguan logistik di berbagai negara
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz membawa dampak terhadap rantai pasok global, termasuk pengiriman sejumlah bahan baku industri ke Indonesia.
Kondisi ini kemungkinan dapat menghambat pengiriman bahan baku ke PT Chandra Asri Pacific Tbk, perusahaan yang menghasilkan produk petrokimia di Indonesia.
Menanggapi dinamika tersebut, Chandra Asri menegaskan Perseroan telah menyiapkan sistem manajemen pasokan dan perencanaan operasional yang dirancang untuk menghadapi dinamika global.
Manajemen juga memastikan kondisi tersebut tidak menyebabkan penghentian operasional pabrik. Kegiatan produksi hingga saat ini tetap berjalan normal dengan dukungan strategi mitigasi yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporasi PT Chandra Asri Pacific Tbk, Suryandi, menjelaskan deklarasi force majeure disampaikan sebagai bentuk transparansi kepada investor dan mitra usaha atas situasi eksternal di luar kendali perusahaan.
Ia menegaskan, langkah tersebut merupakan prosedur umum dalam praktik bisnis global ketika terjadi gangguan signifikan pada jalur logistik internasional.
Baca juga: Selat Hormuz Memanas! Iran Klaim Kuasai Jalur Minyak, AS Siapkan Armada Laut Kawal Kapal Tanker
“Dalam konteks perkembangan situasi geopolitik global, termasuk potensi gangguan distribusi energi dan logistik di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, penyampaian pemberitahuan ini merupakan langkah mitigasi risiko dan bentuk kehati-hatian korporasi,” ujarnya.
Ia turut menegaskan status force majeure tidak identik dengan penghentian aktivitas produksi.
Dampak Global, Mitigasi Lokal
Sebagai jalur strategis distribusi energi dan bahan baku global, penutupan Selat Hormuz, memicu gangguan logistik di berbagai negara. Sejumlah perusahaan yang memiliki ketergantungan impor dari kawasan tersebut turut merasakan perlambatan pengiriman.
“Saat ini seluruh fasilitas produksi Chandra Asri tetap beroperasi. Tidak terdapat penghentian operasional, baik di kawasan industri Cilegon maupun fasilitas kami di Singapura,” ujar Suryandi.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa gangguan eksternal tidak sepenuhnya berdampak pada penghentian produksi, berkat kesiapan sistem manajemen risiko yang telah dibangun sebelumnya.
Sejalan dengan itu, perusahaan juga memaparkan langkah-langkah mitigasi yang tengah dijalankan guna menjaga kesinambungan usaha di tengah dinamika global yang berkembang.
“Kami secara aktif memantau perkembangan situasi global dan melakukan langkah antisipatif untuk menjaga kesinambungan operasional dan ketahanan bisnis. Sebagai bagian dari pengelolaan risiko yang terukur, perusahaan melakukan penyesuaian tingkat operasional (run rates) secara fleksibel sesuai kebutuhan dan kondisi pasokan,” pungkas Suryandi.
Selain penyesuaian tingkat operasional tersebut, Suryandi juga menjelaskan bahwa perusahaan terus berkoordinasi secara intensif dengan pelanggan, mitra logistik, serta pemangku kepentingan terkait untuk meminimalkan potensi dampak terhadap distribusi produk dan pemenuhan kewajiban kontraktual.