Pengelolaan Tambang Harus Berbasis Moral, Etika, dan Keberlanjutan
aktivitas pertambangan harus dijalankan dengan moral dan etika. Halal tidak hanya menyangkut zat, tetapi juga proses
Penulis:
Seno Tri Sulistiyono
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Kekayaan alam Indonesia, termasuk sektor pertambangan, dinilai sebagai amanah yang harus dikelola bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
- Pengelolaan mineral perlu berlandaskan moral, rasa syukur melalui hilirisasi, serta orientasi pada kemaslahatan bersama.
- Hilirisasi diyakini mampu menghadirkan nilai tambah bagi bangsa sekaligus memastikan manfaat sumber daya dirasakan masyarakat dan lingkungan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kekayaan alam Indonesia, termasuk sektor pertambangan, merupakan amanah yang harus dikelola dengan tanggung jawab dan keberlanjutan.
Pengelolaan yang berlandaskan nilai moral dan kemaslahatan menjadi fondasi agar sumber daya tersebut benar-benar memberi manfaat bagi bangsa.
Saat acara Buka Puasa Grup MIND ID Bersama Media, kemarin, tokoh agama Husein Ja'far Al Hadar berharap seluruh pemangku kepentingan tidak melihat sektor industri pertambangan semata sebagai bisnis, tetapi sebagai titipan yang harus dijaga secara etis.
Baca juga: Proyek Dragon MIND ID Diyakini Bisa Bawa Indonesia ke Ekosistem Baterai Global
“Kita ini khalifah, pemimpin di muka bumi, bukan penguasa. Maka tambang adalah amanah, bukan sekadar komoditas ekonomi,” ujar Habib Ja'far dikutip Jumat (6/3/2026).
Ia memaparkan tiga prinsip dalam mengelola karunia Tuhan seperti mineral dan sumber daya alam.
Pertama, aktivitas pertambangan harus dijalankan dengan moral dan etika. Halal tidak hanya menyangkut zat, tetapi juga proses.
Pengelolaan tambang tidak boleh merusak lingkungan, tidak mengabaikan nilai kemanusiaan, dan tidak melanggar tanggung jawab sosial.
“Mineral halal bukan hanya karena bendanya, tapi karena cara mendapatkannya tidak merusak dan tidak melanggar nilai,” katanya.
Kedua, pengelolaan tambang harus dilandasi rasa syukur. Mengolah mineral dan mendorong hilirisasi dipandang sebagai bentuk syukur atas karunia Tuhan, sekaligus upaya menghadirkan nilai tambah bagi bangsa.
“Mengelola dan memberi nilai tambah pada mineral itu bentuk syukur. Ketika kita mengelola dari hulu sampai hilir, kita sedang menjaga amanah dan menjadi tuan di negeri sendiri,” ujarnya.
Ketiga, tujuannya adalah maslahat. Orientasi pengelolaan sumber daya harus berbasis ekologi, bukan egologi. Manfaatnya harus dirasakan bersama, bukan hanya oleh segelintir pihak.
“Prinsipnya kebaikan bersama. Tambang harus memberi nilai tambah bagi masyarakat, bangsa, dan lingkungan,” tuturnya.
Baca juga: Pertamina dan Mind ID Percepat Hilirisasi Batu Bara Jadi Alternatif Pengganti LPG
Ia menegaskan, seluruh aturan Tuhan pada dasarnya ditujukan untuk kebaikan manusia. Karena itu, pengelolaan sumber daya alam harus diarahkan agar menjadi rahmat, bukan sumber kerusakan.
“Kalau kita sadar ini amanah, maka yang lahir bukan keserakahan, tapi tanggung jawab. Di situlah kekayaan alam bisa menjadi kemaslahatan bagi bangsa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa setiap program keberlanjutan bukan sekadar pilihan, melainkan fondasi dalam mengelola kekayaan alam.
Dengan kesadaran bahwa sumber daya adalah amanah, pengelolaan tambang seperti yang telah dilakukan Grup MIND ID diharapkan mampu menjadi meningkatkan nilai tambah dan kemaslahatan bagi bangsa, hari ini dan di masa depan.