Garuda Tanggapi Viralnya Tiket Super Mahal Palangkaraya-Jakarta Rp200 Juta
Harga tersebut murni berasal dari perusahaan aplikasi penjualan tiket online atau online travel agent (OTA) di luar negeri.
Penulis:
Rizki Sandi Saputra
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Garuda menegaskan harga tiket pesawat yang mencapai Rp200 juta tersebut bukan harga pada sistem resmi Garuda Indonesia.
- Harga tersebut murni berasal dari perusahaan aplikasi penjualan tiket online atau online travel agent (OTA) di luar negeri.
- OTA yang menjual amat mahal tiket Garuda tersebut diklaim tidak memilki hubungan kerja sama dengan Garuda Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Manajemen Garuda Indonesia buka suara soal fenomena viralnya harga tiket pesawat maskapai Garuda Indonesia rute Palangkaraya-Jakarta yang mencapai ratusan juta rupiah di media sosial.
Direktur Niaga Garuda Indonesia Reza Aulia Hakim menegaskan harga tiket pesawat yang mencapai Rp200 juta tersebut bukan harga pada sistem resmi Garuda Indonesia.
Reza bilang, harga tersebut murni berasal dari perusahaan aplikasi penjualan tiket online atau online travel agent (OTA) di luar negeri.
"Saya yakin nggak ada gitu ya, tapi ada OTA luar negeri ini yang harganya luar biasa bahkan tadi malam sempat viral juga gitu ya Palangkaraya ke Jakarta 200 juta Garuda. Doesn’t make sense itu," kata Reza saat jumpa pers secara daring, Selasa (17/3/2026).
Saat ini pihaknya telah menelusuri OTA yang dimaksud tersebut dan diketahui bahwa OTA itu tidak memilki hubungan kerja sama dengan Garuda Indonesia.
Dia bilang harga tiket Rp200 juta tersebut tidak pernah ada dalam skema tarif internal maskapai.
"Bapak dan Ibu ya karena memang ini bukan partner-nya kita nih Pak Dir Angkutan Udara gitu ya, namun sempat viral padahal harganya tidak pernah ada ya kita nggak pernah filing," ucap dia.
Baca juga: Garuda Buka Penerbangan Langsung Jakarta-Amsterdam 24 dan 25 Maret 2026
Dengan adanya fenomena yang viral ini, Reza meminta kepada seluruh stakeholder termasuk dari pihak OTA untuk mampu menjaga kondusivitas dari masyarakat.
Pasalnya kata dia, keadaan seperti demikian berpotensi menimbulkan kekeliruan di masyarakat dengan munculnya anggapan maskapai menjual tiket pesawat secara mahal.
Padahal, pihaknya kata Reza selalu mematuhi regulasi dari pemerintah termasuk pemberian tarif diskon 17-18 persen untuk penerbangan ekonomi domestik.
Baca juga: Ada Tambahan 1.195 Penerbangan untuk Pemudik, Maskapai Bisa Ajukan ke Kemenhub
"Mungkin demikian dan terakhir izin Pak Dir Angkutan Udara tentunya kami terus comply," kata dia. Reza juga mengimbau perlu dilakukannya pengawasan yang ketat terhadap aplikator penjualan tiket khususnya yang berasal dari luar negeri.
Sebab kata dia, jangan sampai karena adanya kepentingan dari segelintir pihak akhirnya mencederai kepercayaan penumpang terhadap maskapai.
"Nah ini mudah-mudahan ke depannya hal-hal yang ini kita bisa mitigasi dan bagaimana melakukan monitoring dan supaya rekan-rekan semuanya disiplin lah kurang lebih gitu ya, tanpa juga mencederai penumpang ataupun airline-nya, apalagi OTA-nya sendiri," tukas dia.