Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Kemacetan Parah Warnai Arus Mudik 2026, Kendaraan Menumpuk di Rest Area dan Penyeberangan

Kemacetan parah dan penumpukan kendaraan di rest area dan jalan tol mewarnai arus mudik Lebaran 2026. 

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Kemacetan Parah Warnai Arus Mudik 2026, Kendaraan Menumpuk di Rest Area dan Penyeberangan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
MACET PARAH - Kendaraan memasuki gerbang tol Cikampek Utama (Cikatama) yang dipantau melalui drone di Karawang, Jawa Barat, Sabtu (14/3/2026). Kemacetan parah dan penumpukan kendaraan di rest area dan jalan tol mewarnai arus mudik Lebaran 2026. Kendaraan pemudik menumpuk dan tak begerak selama berjam-jam di ruas Tol Jakarta-Cikampek. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Ringkasan Berita:
  • Kemacetan parah dan penumpukan kendaraan di rest area dan jalan tol mewarnai arus mudik Lebaran 2026. 
  • Kendaraan pemudik menumpuk dan tak begerak selama berjam-jam di ruas Tol Jakarta-Cikampek.
  • Di Pelabuhan Gilimanuk, antrean kendaraan mengular hingga 30 kilometer akibat tingginya volume kendaraan yang hendak menyeberang keluar dari Bali.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kemacetan parah dan penumpukan kendaraan di rest area dan jalan tol mewarnai arus mudik Lebaran 2026. Kendaraan pemudik menumpuk dan tak begerak selama berjam-jam di ruas Tol Jakarta-Cikampek.

Di penyeberangan Pelabuhan Gilimanuk, Bali, juga terjadi penumpukan kendaraan dan mengular sampai 30 kilometer panjangnya di Jalan Raya Gilimanuk-Denpasar, Bali, Selasa, 17 Maret 2026. 

Lonjakan pergerakan kendaraan yang tinggi dan persoalan tata kelola lalu lintas dinilai menjadi faktor utama terhambatnya mobilitas pemudik tahun ini.

Kemacetan ekstrem terjadi di kawasan tol Cikampek. Pemudik dilaporkan terjebak hingga lima jam hanya untuk keluar dari ruas tol, yang biasanya dapat ditempuh hanya dalam waktu 50 menit, Rabu (18/3/2026).

Sementara itu, di Pelabuhan Gilimanuk, antrean kendaraan mengular hingga 30 kilometer akibat tingginya volume kendaraan yang hendak menyeberang keluar dari Bali.

Rekomendasi Untuk Anda

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi menilai kemacetan di Tol Jakarta-Cikampek merupakan persoalan yang berulang setiap musim mudik.

"Untuk kemacetan Jakarta-Cikampek biasanya dipicu kepadatan di rest area di KM 57, tersebab ada titik temu antara tol MBZ dan tol Cikampek, sementara arus sangat padat. Ada 1,1 juta kendaraan yang lewat," kata Tulus saat dihubungi Tribunnews.com, Rabu (18/3/2026).

Baca juga: Tol Jakarta-Cikampek Macet Parah, Fauzi dari Bekasi Pukul 00.20 WIB, 5 Jam Pecah Rekor

Selain itu, kemacetan parah yang terjadi di wilayah Pelabuhan Gilimanuk disebut sebagai "horor traffic" yang dipicu oleh masih beroperasinya truk sumbu tiga, meskipun telah ada pembatasan.

"Untuk kasus horor traffic di Gilimanuk disebabkan oleh banyaknya truk sumbu tiga yang masih beroperasi, padahal sudah dilarang. Maka ini perlu kepatuhan dari para pengusaha dan konsisten dalam penegakan hukum oleh kepolisian," tuturnya.

Ia menambahkan, peran pemerintah daerah dan dinas perhubungan juga sangat penting dalam melakukan pengawasan di lapangan untuk mengurai berbagai kemacetan selama musim mudik.

"Pemda dan dishub juga harus konsisten dalam pengawasan. Bahkan di banyak tempat masih banyak truk sumbu tiga yang beroperasi, kecuali sumbu tiga untuk logistik dan BBM, tidak dilarang," lanjutnya.

Baca juga: H-1 Nyepi, Antrean Kendaraan di Gilimanuk Masih Mengular Belasan Kilometer, Pelabuhan Besok Ditutup

Untuk mengurai kemacetan, Tulus mendorong aparat kepolisian agar lebih aktif mendistribusikan arus kendaraan, tidak hanya terfokus pada jalan tol.

"Polisi bisa mendorong pemudik untuk lewat jalur Pantura, non tol. Jalur Pantura malah sepi. Trafik di jalan tol bisa didistribusikan ke Pantura. Jadi jangan terfokus di jalan tol saja," terang Tulus.

Terkait potensi kerugian akibat kemacetan panjang selama arus mudik, Tulus menilai hal tersebut perlu dikaji secara komprehensif dari berbagai aspek.

"Perlu kajian dulu, baik dari perspektif sosial, ekonomi, bahkan lingkungan," ungkapnya.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas