Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 200 Dolar AS Akibat Perang Israel-AS Vs Iran Tak Usai, Apa Dampaknya?
INDEF proyeksikan harga minyak hingga USD 200/barel, subsidi energi berpotensi tembus Rp884 triliun dan defisit APBN di atas 6%.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- onflik AS-Israel-Iran picu lonjakan harga minyak dan ancam jalur energi global, berdampak pada ICP dan tekanan fiskal Indonesia.
- INDEF proyeksikan harga minyak hingga USD 200/barel, subsidi energi berpotensi tembus Rp884 triliun dan defisit APBN di atas 6 persen.
- Pemerintah didorong lakukan kebijakan antisipatif untuk tekan inflasi, jaga daya beli, dan stabilkan ekonomi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Institute for Development of Economics & Finance (Indef) memprediksi harga minyak dunia bisa menembus 200 juta dolar AS jika perang Israel-Ameriak Serikat (AS) versus Iran berlangsung secara lama.
Perang tersebut diketahui telah mengancam jalur distribusi 20 persen energi dunia di Selat Hormuz. Sekarang harga minyak dunia dikisaran 112,19 dolar AS per barel.
Situasi ini berdampak langsung pada kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) yang berpotensi membengkakkan beban subsidi energi dan menekan ruang fiskal dalam APBN, sekaligus memicu inflasi domestik melalui kenaikan biaya logistik.
Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran: WNI gelisah dengan potensi kenaikan harga BBM – Hidup akan semakin berat
Ekonom Senior Indef, Didin S. Damanhuri memaparkan tiga skenario dampak harga minyak terhadap ketahanan fiskal Indonesia.
Skenario pertama, jika perang berakhir cepat, harga minyak diprediksi pada level USD 100/barel dengan defisit APBN 4%.
Skenario kedua, perang yang berlangsung 1,5 bulan dapat mendorong harga ke USD 150/barel dengan defisit 5-6%.
"Sementara itu, pada skenario terburuk jika konflik berkepanjangan, harga minyak bisa menyentuh USD 180–200/barel, yang berpotensi membengkakkan subsidi energi hingga Rp884 triliun dan menyebabkan defisit APBN melonjak di atas 6%," papar Didin dikutip Minggu (22/3/2026).
Menghadapi risiko tersebut, Didin menekankan pentingnya mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit maksimal 3% guna menjaga kepercayaan pasar keuangan dan lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan MSCI.
Ia menyebut, alih-alih melonggarkan defisit melalui Perppu yang berisiko memperberat beban utang, pemerintah disarankan melakukan penajaman efisiensi pada program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan swasembada pangan dengan melibatkan UMKM dan koperasi desa.
"Melalui perbaikan tata kelola APBN dan penguatan pasar modal, Indonesia diyakini tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5% sekaligus mendorong pemerataan pendapatan," ujarnya.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman menjelaskan, urgensi kebijakan antisipatif dalam menghadapi dampak konflik geopolitik global Iran versus Israel-AS yang berisiko memicu imported inflation di Indonesia.
Mengingat struktur ekonomi nasional sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga (53% terhadap PDB), beliau menyampaikan bahwa gejolak harga energi global yang berpotensi menembus USD 100 per barel menjadi ancaman langsung bagi daya beli masyarakat melalui inflasi barang dan jasa (cost-push inflation).
Rizal memperingatkan, adanya potensi risiko stagflasi, di mana pertumbuhan ekonomi melambat namun dibarengi inflasi tinggi, karena 74% pengeluaran rumah tangga di Indonesia sangat sensitif terhadap komponen pangan (39%), energi (22%), dan transportasi (13%) dan lainnya (26%).
Rizal menyampaikan simulasi dampak berdasarkan durasi konflik, di mana jika harga minyak mentah berada di atas USD 100 per barel, pertumbuhan ekonomi Indonesia berisiko terkoreksi sebesar 0,3% hingga 0,5%.
Baca tanpa iklan