IHSG Ditutup Perkasa Usai Libur Lebaran, Naik 2,75 Persen ke Level 7.302
Nilai transaksi perdagangan hari ini mencapai Rp25,89 triliun dengan melibatkan 36,35 miliar lembar saham.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- IHSG ditutup naik 2,75 persen ke 7.302, didorong penguatan pasar global dan meredanya tensi geopolitik.
- Mayoritas saham menguat dengan transaksi mencapai Rp25,89 triliun.
- Analis ingatkan risiko eksternal, level 7.000 jadi kunci menjaga tren.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah libur Lebaran, pada perdagangan Rabu (25/3/2026) berakhir di zona hijau.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melonjak 2,75 persen atau 195 persen ke posisi 7.302,12 dari posisi penutupan sebelumnya 7.106,84.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada kisaran 7.057 hingga 7.302.
Baca juga: Usai Libur Lebaran, IHSG Pagi Ini Berbalik Menguat 1 Persen ke Level 7.181
Ada 597 saham menguat, 164 saham melemah, 197 saham stagnan.
Adapun nilai transaksi hari ini mencapai Rp25,89 triliun dengan melibatkan 36,35 miliar lembar saham.
Mulai membaiknya pasar saham Amerika Serikat dan Asia setelah sebelumnya tertekan, didukung meredanya tensi geopolitik dan stabilnya harga energi, menjadi sentimen positif bagi IHSG.
Founder Republik Investor Hendra Wardana, risiko eksternal tetap perlu diwaspadai, terutama jika terjadi kembali peningkatan tensi geopolitik, lonjakan harga energi, atau kebijakan suku bunga The Fed yang lebih ketat dari ekspektasi pasar.
Kondisi tersebut dapat menekan IHSG hingga menguji level psikologis di 7.000.
"Level ini menjadi level kunci untuk menjaga tren IHSG tetap berada dalam fase konsolidasi yang sehat," ujarnya dikutip dari Kontan.
Sementara itu, Founder WH Project William Hartanto melihat IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda mendekati fase bottoming.
Hal ini tercermin dari terbentuknya pola doji pada grafik mingguan yang mengindikasikan keseimbangan antara tekanan beli dan jual, serta potensi jenuh jual setelah tren pelemahan.
Ia menilai level 7.000 kini menjadi area support kuat setelah IHSG sempat turun hingga 6.917.
Meski demikian, sentimen negatif sejak awal tahun masih membayangi pergerakan indeks, sehingga tren pelemahan dinilai belum sepenuhnya berakhir.