Penipuan Digital Naik Kelas, Masyarakat Perlu Waspadai Perkembangan Scam
Pelaku penipuan kini memanfaatkan teknologi generatif dan membaca momentum kepercayaan serta pergerakan likuiditas masyarakat.
Penulis:
Choirul Arifin
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Sindikat penipuan digital kini semakin canggih lebih rapi dan didukung kemampuan teknis dengan memanfaatkan perkembangan AI.
- Praktik penipuan menyasar target secara acak dan bisa dijalankan dalam skala besar dan scam kini telah berkembang menjadi bisnis kriminal lintas negara dengan nilai ekonomi yang sangat besar.
- Pelaku penipuan kini memanfaatkan teknologi generatif dan membaca momentum kepercayaan serta pergerakan likuiditas masyarakat.
Ā
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA ā Ancaman penipuan digital atau scam berkembang dengan polaĀ yang semakin adaptif dan beragam sejalan dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Saat berbincangan dengan Gita Wirjawan di podcast Endgame, Niki Luhur, founder dan Group CEO VIDA mengingatkan bahwa pelaku scam saat ini tidak lagi bisa dipandang sebagai individu yang bergerak sendiri.Ā
Di balik banyak serangan digital saat ini, terdapat jaringan yang lebih rapi, terkoordinasi dan didukung kemampuan teknis yang semakin canggih.
Baca juga: Sejak Januari, 6.308 WNI Eks Sindikat Scam Kamboja Minta Pulang ke RI
āPenipuan sekarang tidak lagi bergerak secara acak atau dilakukan sendirian. ModusnyaĀ sudah makin rapi, terstruktur, bisa dijalankan dalam skala besar, dan kecanggihannyaĀ terus berkembang pesat,ā ujar Niki.
Diskusi ini sekaligus menandai peluncuran whitepaper VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook.
Laporan tersebut menyoroti lanskap penipuan digital di Asia Tenggara yang terus berkembang, baik dari sisi kecanggihan serangan, pemanfaatan teknologi generatif, maupun cara pelaku membaca momentum kepercayaan dan pergerakan likuiditas masyarakat.
Niki menjelaskan, scam kini telah berkembang menjadi bisnis kriminal lintas negara dengan nilai ekonomi yang sangat besar. Ia mencontohkan pengungkapan kasus yang melibatkan Kamboja dan Myanmar, dengan penyitaan aset Bitcoin senilai 14 miliar dolar AS atau setara dengan lebih dari Rp238 triliun.Ā
Niki juga menyoroti laporan tentang 800 Warga Negara Indonesia (WNI) yang mengantre di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kamboja untuk pulang setelah terjebak dalam kerja paksa jaringan scam.
Kasus ini menegaskan bahwa scam kini bukan lagi penipuan digital biasa, melainkanĀ persoalan lintas negara dengan dampak yang semakin besar.
Perkembangan AI seperti deepfake dan synthetic identity membuat batas antara yang nyata dan palsu semakin tipis.
Teknologi ini memungkinkan konten palsu tampil lebih realistis, meyakinkan, dan diproduksi jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu.
Kondisi ini menghadirkan tantangan baru bagi ekosistem digital, karena bukan hanya identitas yang dapat dipalsukan, tetapi juga rasa percaya pengguna terhadap interaksi dan transaksi digital.
āKetika teknologi membuat sesuatu yang palsu tampak sangat nyata dan meyakinkan,Ā tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita membangun kembali trust di ruangĀ digital,ā ujar Gita Wirjawan.
Melalui diskusi ini, VIDA menegaskan bahwa menghadapi lonjakan penipuan digital tidakĀ bisa hanya mengandalkan satu pendekatan.