Harga BBM Pertamina Dexlite-Dex Melonjak, Apindo: Menambah Beban Dunia Usaha
Pelaku usaha cenderung menahan ekspansi dan fokus efisiensi di tengah tekanan biaya dan ketidakpastian global.
Penulis:
Rizki Sandi Saputra
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Menetapkan dia, penyesuaian harga BBM non-subsidi yang dilakukan oleh Pertamina ini seolah menjadi penguat (amplifier) dari berbagai tekanan yang sudah ada sebelumnya.
Hal itu mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan ongkos logistik global, asuransi pelayaran, hingga gangguan pasokan bahan baku.
"Jadi, penyesuaian BBM nonsubsidi ini sebetulnya bekerja sebagai amplifier terhadap tekanan yang sebelumnya sudah berlangsung," kata dia.
"Dunia usaha tidak membaca ini sebagai isu tunggal, tetapi sebagai bagian dari akumulasi tekanan biaya pada awal 2026 ini," tegas Sanny.
Menghadapi situasi yang menantang ini, APINDO kata dia akan cenderung mengambil langkah hati-hati dalam menetapkan segala hal.
Stabilitas arus kas dan efisiensi operasional digadang bakal menjadi prioritas agar perusahaan tetap bisa bertahan di tengah ketidakpastian.
"Dunia usaha berada dalam posisi menantang. Di satu sisi ada harapan tekanan global mereda, namun di sisi lain biaya domestik justru meningkat. Oleh karena itu, pelaku usaha cenderung akan mengambil pendekatan wait and see," imbuhnya.
Pihaknya lantas berharap pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menjaga stabilitas geopolitik agar harga energi ke depan lebih dapat diprediksi.
"Kami berharap tren harga energi memberikan ruang bagi perbaikan struktur biaya dunia usaha ke depannya," tukas Sanny.
Baca tanpa iklan