Stafsus Presiden: Internet Tembus 80 Persen, tapi Literasi Digital UMKM Masih Mandek
Internet meluas, tapi literasi digital UMKM tertinggal. Tiar N Karbala ingatkan risiko kesenjangan makin lebar di era AI
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Stafsus Presiden Tiar N Karbala menyoroti paradoks digital: penetrasi internet Indonesia sudah 77–80 persen, tetapi literasi digital UMKM masih stagnan
- Kondisi ini berisiko memperlebar kesenjangan dengan pelaku usaha besar, terutama di tengah pesatnya perkembangan AI
- Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem dan kapasitas pelaku usaha
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Staf Khusus Presiden RI Bidang UMKM dan Digitalisasi, Tiar N Karbala, menyoroti sebuah paradoks yang kini dihadapi Indonesia dalam era digital.
Di satu sisi, penetrasi internet nasional sudah tergolong tinggi, mencapai 77 hingga 80 persen dan menjangkau hingga wilayah pelosok namun tingkat literasi digital pelaku usaha, khususnya UMKM, masih tertahan di level menengah dan belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Kondisi ini berpotensi menciptakan kesenjangan yang semakin lebar antara pelaku usaha besar dan UMKM apalagi, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berjalan sangat cepat dan menuntut kesiapan yang lebih dari sekadar akses internet.
“Meski akses internet sudah luas, kemampuan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi belum berkembang signifikan. Ini berisiko memperbesar jurang, apalagi dengan kehadiran teknologi seperti AI,” ujar Tiar saat dialog strategis pada penutupan MitMe Fest 2026 yang berlangsung di M Bloc Space, Jakarta, Minggu (26/4/2026).
Tiar menjelaskan bahwa persoalan digitalisasi UMKM tidak bisa hanya dilihat dari sisi infrastruktur.
Ketersediaan jaringan internet memang penting, tetapi tidak cukup untuk mendorong transformasi digital yang nyata di tingkat pelaku usaha.
Menurutnya, tantangan utama justru terletak pada ekosistem.
Baca juga: Segini Jumlah Pengguna Internet dan Media Sosial Dunia Menurut We Are Social 2026
"Banyak pelaku UMKM yang sudah terhubung ke internet, tetapi belum memahami cara memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, atau mengoptimalkan operasional bisnis," katanya.
Misalnya, masih banyak pelaku usaha yang menggunakan internet sebatas untuk komunikasi dasar atau media sosial sederhana, tanpa memanfaatkan fitur analitik, pemasaran digital berbasis data, hingga otomatisasi proses bisnis. Padahal, teknologi tersebut dapat membantu UMKM bersaing dengan pemain yang lebih besar.
Karena itu, Tiar menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, menurutnya, tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan sebesar ini.
“Pemerintah tidak bisa berdiri sendiri untuk mengurusi masalah yang begitu besar dari Sabang sampai Merauke. Harus ada semangat gotong royong, melibatkan talenta muda, komunitas, hingga sektor swasta,” katanya.
Ia menambahkan, peran talenta muda dan komunitas menjadi krusial dalam menjembatani kesenjangan literasi digital. Mereka dinilai lebih adaptif terhadap teknologi dan dapat menjadi agen perubahan di tingkat lokal, membantu UMKM memahami penggunaan platform digital, e-commerce, hingga teknologi berbasis AI secara praktis.
Sementara itu, sektor swasta diharapkan dapat berkontribusi melalui program pelatihan, pendampingan, serta penyediaan solusi teknologi yang mudah diakses dan sesuai dengan kebutuhan UMKM.
MitMe Fest 2026 sendiri menjadi salah satu contoh upaya membangun ekosistem tersebut. Mengusung tema “Cerita Lokal, Karya Nusantara”, festival ini digelar selama tiga hari, 24 hingga 26 April 2026, dengan melibatkan pelaku UMKM, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan.
Tidak hanya berfokus pada transaksi dan promosi produk, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Mulai dari diskusi, pelatihan, hingga sesi berbagi pengalaman terkait pemanfaatan teknologi dalam bisnis.
Baca tanpa iklan