Tekan Biaya Logistik, Industri Didorong Optimalkan Armada Berbasis Data
Tingginya biaya logistik di Indonesia masih dipicu inefisiensi armada, seperti rute tidak optimal dan waktu kendaraan menganggur
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Tingginya biaya logistik di Indonesia masih dipicu inefisiensi armada, seperti rute tidak optimal dan waktu kendaraan menganggur.
- Kondisi ini membebani operasional sekaligus meningkatkan emisi karbon.
- Pemanfaatan sistem berbasis data dan IoT dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi serta menekan biaya dan dampak lingkungan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Tingginya biaya logistik di Indonesia masih dipicu oleh inefisiensi armada distribusi, mulai dari rute yang tidak optimal hingga tingginya waktu kendaraan menganggur.
Kondisi ini tidak hanya membebani biaya operasional perusahaan, tetapi juga meningkatkan jejak emisi karbon di sektor logistik.
Sejumlah studi kasus menunjukkan inefisiensi operasional armada menjadi salah satu faktor dominan dalam tingginya biaya distribusi. Perencanaan rute yang kurang efisien serta tingginya idle time kendaraan berdampak langsung pada pemborosan bahan bakar dan peningkatan emisi.
Di sisi lain, integrasi data operasional masih menjadi tantangan. Banyak perusahaan dinilai belum memiliki visibilitas real-time untuk mengidentifikasi sumber pemborosan biaya maupun potensi efisiensi dari aktivitas armada.
Founder & CEO TransTRACK, Anggia Meisesari, menilai tantangan utama dalam implementasi rantai pasok berkelanjutan saat ini bukan lagi pada aspek kesadaran, melainkan eksekusi berbasis data.
“Banyak perusahaan sudah memiliki komitmen ESG, tetapi belum memiliki visibilitas data yang cukup untuk mengidentifikasi sumber inefisiensi dan emisi secara real-time,” ujarnya dikutip, Senin (4/5/2026).
Ia menambahkan, tanpa dukungan data yang akurat, komitmen tersebut kerap tidak dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan.
Dalam konteks ini, pemanfaatan pemanfaatan smart fleet management system yang berbasis Internet of Things (IoT) dinilai dapat membantu perusahaan memantau operasional secara lebih terukur.
Baca juga: Kejar Penurunan Biaya Logistik, Sopir Truk Juga Akan Disertifikasi
Perusahaan dapat memperoleh data real-time untuk mengidentifikasi inefisiensi, sekaligus menghitung emisi karbon berdasarkan aktivitas kendaraan.
Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu mendorong pengambilan keputusan yang lebih tepat dalam menekan biaya operasional.
Di sejumlah sektor seperti logistik dan pertambangan, penerapan sistem serupa disebut mampu meningkatkan produktivitas armada sekaligus menekan biaya operasional dan emisi, meski implementasinya masih bergantung pada kesiapan masing-masing perusahaan.
Baca juga: Industri Logistik Nasional Hadapi Tekanan Fuel Surcharge dan Kenaikan Tarif Pengiriman
Selain teknologi, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting dalam mendorong transformasi operasional. Oleh karena itu, pelaku industri mulai mendorong peningkatan kompetensi melalui berbagai program pelatihan yang lebih aplikatif.
Direktur TransTRACK Academy, Budi Santosa Chulasoh, menilai transformasi menuju rantai pasok berkelanjutan membutuhkan SDM yang mampu menjembatani strategi dan implementasi.
“Masih terdapat kesenjangan antara pemahaman konsep keberlanjutan dengan praktik operasional sehari-hari. Diperlukan pendekatan yang lebih aplikatif agar strategi dapat diimplementasikan secara efektif,” ujarnya.
Baca tanpa iklan