Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Industri AMDK Hadapi Tekanan Ganda, Pengamat Soroti Risiko Biaya Logistik dan Energi

tekanan dari sisi hulu muncul akibat gejolak geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak dan gas

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Sanusi
zoom-in Industri AMDK Hadapi Tekanan Ganda, Pengamat Soroti Risiko Biaya Logistik dan Energi
istimewa
Tekanan dari sisi hulu muncul akibat gejolak geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak dan gas dunia. Kondisi tersebut berdampak pada industri petrokimia, termasuk kenaikan harga bahan baku plastik untuk kemasan AMDK. Di saat yang sama, industri juga menghadapi potensi lonjakan ongkos distribusi akibat implementasi kebijakan pembatasan angkutan Over Dimension Over Load (ODOL). 

Padahal, sesuai regulasi dan standar industri, sumber air AMDK dapat berasal dari mata air maupun air tanah dalam selama memenuhi ketentuan pengolahan dan pengawasan mutu.

Menurut Andreas, di tengah tekanan biaya global dan transformasi kebijakan domestik, industri membutuhkan kepastian dan sinkronisasi kebijakan agar tetap mampu menjaga stabilitas pasokan serta keterjangkauan harga di masyarakat.

“Keberlanjutan industri AMDK bukan hanya soal bisnis, tetapi juga berkaitan dengan akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan stabilitas ekonomi,” ujarnya.

Diketahui kontribusi industri AMDK terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional telah melampaui 1 persen, tepatnya sekitar 1,04 persen.

Baca juga: DPR Soroti Dominasi Asing di Industri AMDK, Padahal Air Melimpah

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari peran strategis sektor ini dalam menopang industri makanan dan minuman—yang selama ini menjadi tulang punggung manufaktur nonmigas Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya menegaskan bahwa industri AMDK memiliki posisi vital dalam ekosistem manufaktur nasional.

Selain mendorong pertumbuhan industri pengolahan, sektor ini juga menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung, dengan kapasitas produksi mencapai 47 miliar liter per tahun dari lebih dari 700 pabrik di seluruh Indonesia.

Rekomendasi Untuk Anda

Dengan tingkat utilisasi di atas 70 persen, industri ini selama ini mencerminkan stabilitas sekaligus efisiensi.

 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas