Kinerja Ekspor Industri Kerajinan Bambu Naik 25 Persen di Februari 2026
Ekspor produk kerajinan pada Februari 2026 meningkat 25,09 persen secara tahunan menjadi 10,34 juta dolar AS dari sebelumnya 8,27 juta dolar AS.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Data BPS 2025, industri kerajinan berkontribusi 2,10 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.
- Ekspor produk kerajinan pada Februari 2026 meningkat 25,09 persen secara tahunan menjadi 10,34 juta dolar AS dari sebelumnya 8,27 juta dolar AS.
- Ditjen IKMA menjalankan pendampingan sentra IKM kerajinan bambu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada 5-8 Mei 2026.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) kerajinan berbasis potensi daerah guna meningkatkan nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
Salah satu upaya yang dilakukan melalui pengembangan dari IKM berbahan baku bambu.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan budaya yang besar untuk dikembangkan menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi.
"IKM kerajinan Indonesia banyak memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah seperti kayu, rotan, dan bambu. Bahan baku lokal yang diolah menjadi produk kerajinan khas ini tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga sarat dengan cerita budaya serta memiliki nilai ekonomi yang besar apabila dikembangkan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan," tutur Agus dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, industri kerajinan berkontribusi 2,10 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.
Sementara itu, ekspor produk kerajinan pada Februari 2026 meningkat 25,09 persen secara tahunan menjadi 10,34 juta dolar AS dari sebelumnya 8,27 juta dolar AS.
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Reni Yanita menyebut pengembangan sentra IKM menjadi strategi efektif memperkuat ekonomi daerah.
Baca juga: Mendagri Resmikan Kantor PPID, Buka Peluang Pasarkan Produk Kerajinan Daerah
"Melalui pembinaan berbasis sentra, struktur ekonomi masyarakat di daerah menjadi lebih kuat. Selain itu, proses pendampingan juga dapat berjalan lebih efektif karena tidak hanya menyentuh individu, tetapi membangun ekosistem usaha yang saling mendukung," ucap Reni.
Sebagai bagian dari program pengembangan 2026, Ditjen IKMA menggelar pendampingan sentra IKM kerajinan bambu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada 5-8 Mei 2026.
Program tersebut diikuti 35 perajin bambu dengan pelatihan desain produk, teknik pengawetan bambu, hingga konsultasi kemasan modern.
Reni menyebut, bambu memiliki prospek besar karena ramah lingkungan dan mudah ditemukan di Indonesia yang memiliki 162 jenis bambu dengan luas kebun mencapai 2,4 juta hektare.
Baca juga: Ekspor Kerajinan RI Tembus 806 Juta Dolar AS, Kemenperin Perkuat Akses Pasar IKM
"Kabupaten Hulu Sungai Selatan memiliki kekayaan bahan baku bambu yang melimpah. Potensi ini harus dioptimalkan menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan Budi Setiawan menilai tren pasar saat ini menuntut produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki desain dan kemasan menarik.
"Konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, tetapi juga memperhatikan desain, estetika, inovasi, dan kemasan yang ramah lingkungan. Karena itu, perajin harus terus kreatif dan mampu membaca tren pasar," terang Budi.