Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Dikhawatirkan Ganggu Kinerja, Rangkap Jabatan di Danantara Jadi Sorotan

Rangkap jabatan dinilai menimbulkan persoalan serius, mulai dari terbatasnya waktu dan perhatian pejabat, hingga potensi konflik kepentingan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Dikhawatirkan Ganggu Kinerja, Rangkap Jabatan di Danantara Jadi Sorotan
HO/IST
Ketua Umum Logis 08, Anshar Ilo, menyoroti Danantara yang belum menunjukkan kinerja yang optimal sejak dibentuk pemerintah. 
Ringkasan Berita:
  • Ketua Umum Relawan Logis 08, Anshar Ilo, khawatir banyaknya rangkap jabatan di tubuh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara menghambat kinerja lembaga tersebut. 
  • Ia menilai Danantara belum menunjukkan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional sejak dibentuknya pemerintah.
  • Anshar menyoroti sejumlah pejabat yang merangkap posisi bisa memicu konflik kepentingan dan mengurangi fokus kerja pimpinan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Relawan Logis 08 menyoroti Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang belum menunjukkan kinerja yang optimal sejak dibentuk pemerintah.

Relawan Prabowo–Gibran di Pilpres 2024 itu menilai salah satu persoalan mendasar yang menghambat efektivitas lembaga tersebut adalah masih banyaknya pejabat yang merangkap jabatan di institusi lain.

Ketua Umum Logis 08, Anshar Ilo, menilai mengatakan kondisi tersebut berpotensi mengganggu fokus kerja dan memperlambat pengambilan keputusan strategis yang seharusnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga: Danantara Pertimbangkan Tambah Kepemilikan Saham di GoTo 

“Danantara dibentuk dengan harapan menjadi motor penggerak investasi nasional yang mampu mengelola aset negara secara profesional dan produktif. Namun hingga saat ini kontribusinya terhadap perekonomian nasional belum terlihat signifikan,” ujar Anshar Ilo, Rabu (13/5/2026).

Menurutnya, rangkap jabatan menimbulkan persoalan serius, mulai dari terbatasnya waktu dan perhatian pejabat, hingga potensi konflik kepentingan dalam proses pengambilan kebijakan.

Seperti, Rosan Perkasa Roeslani menjabat sebagai CEO Danantara pada saat yang sama juga menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM (kemudian Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM).

Rekomendasi Untuk Anda

Selanjutnya, Dony Oskaria menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara, juga menjabat sebagai Wakil Menteri BUMN, lalu 

Pandu Patria Sjahrir menjabat sebagai Chief Investment Officer (CIO) Danantara, namun dikenal masih aktif dalam berbagai perusahaan dan entitas investasi swasta.

“Jika para pengambil keputusan masih disibukkan dengan tugas di lembaga lain, tentu sulit bagi Danantara untuk bekerja secara maksimal. Lembaga sebesar ini membutuhkan figur-figur yang fokus penuh dan memiliki komitmen total,” tegasnya.

Anshar juga menilai bahwa Danantara semestinya menjadi instrumen strategis untuk mengoptimalkan aset negara dan menempatkan investasi pada sektor-sektor produktif yang berdampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja, penguatan industri nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ia mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur organisasi Danantara, termasuk menata ulang komposisi pimpinan agar diisi oleh profesional yang dapat bekerja secara independen dan penuh waktu.

“Pemerintah perlu memastikan Danantara dikelola secara profesional, transparan, dan bebas dari konflik kepentingan. Dengan begitu, lembaga ini dapat bergerak lebih cepat dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi nasional,” tutup Anshar Ilo.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas