Bursa RI Dibuka Berdarah, IHSG Anjlok 2 Persen Lebih Tinggalkan Level 6.600
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka merosot ke level 6.628,98 dari posisi penutupan sebelumnya 6.723,32.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- IHSG dibuka anjlok lebih dari 2 persen ke level 6.561 pada perdagangan Senin pagi.
- Pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.597 per dolar AS menjadi sentimen negatif utama pasar.
- Investor asing masih melakukan outflow, sementara pasar menanti langkah Bank Indonesia terkait BI-Rate.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Senin (18/5/2026) anjlok hingga 2 persen lebih.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka merosot ke level 6.628,98 dari posisi penutupan sebelumnya 6.723,32.
Hingga pukul 09.02 WIB, IHSG sudah ambrol 2,41 persen atau 162,25 poin ke posisi 6.561,07.
Baca juga: Ada Rebalancing, IHSG Ditutup Melemah 1,98 Persen ke Level 6.723,32
Pergerakan IHSG sejak dibuka pukul 09.00 hingga 09.02 WIB, bergerak pada rentang 6.548,07 hingga 6.631,28.
Nilai transaksi investor periode waktu tersebut senilai Rp1,54 triliun dengan melibatkan 2,15 miliar lembar saham.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman sebelumnya menyampaikan, pergerakan IHSG hari ini dibayangi pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar AS.
Diketahui, rupiah sempat merosot sentuh ke level Rp17.600 dan kembali menguat tipis ke posisi Rp17.597 per dolar AS.
"IHSG kemungkinan melanjutkan koreksi seiring dengan pelemahan rupiah," ucapnya.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menyampaikan, pasar masih mencerna dampak keluarnya sejumlah saham Indonesia dari MSCI Global Standard maupun Small Cap Index pasca pengumuman MSCI pekan lalu.
"Diperkirakan bahwa foreign outflow (investor asing keluar) masih berlanjut dengan penurunan intensitas dibanding pada saat awal kepanikan," kata Nafan.
Di sisi lain, Nafan melihat, pergerakan nilai tukar rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp17.597 per dolar AS tetap menjadi faktor penekan utama bagi volatilitas indeks.
"Para pelaku pasar cenderung mengambil posisi defensif sambil mencermati langkah intervensi BI menjelang pengumuman BI-Rate pada Rabu, 20 Mei 2026. Diperkirakan BI akan menahan BI-Rate pada 4,75 persen demi menjaga stabilitas rupiah," papar Nafan.