Rupiah Bersiap Menuju ke Level Rp18.000 per Dolar AS di Akhir Mei 2026
Lukman menyebut pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menganggap enteng pelemahan rupiah disambut negatif dari investor.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Rupiah melemah ke Rp17.671 per dolar AS dan diprediksi berpotensi menyentuh Rp18.000 di akhir Mei 2026.
- Tekanan datang dari konflik global, lonjakan harga minyak, aksi jual aset berisiko, hingga sentimen negatif pasar terhadap pernyataan Presiden Prabowo.
- Ekonom meminta pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar melalui intervensi, disiplin fiskal, dan komunikasi ekonomi yang jelas.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi ke level Rp18.000 di akhir Mei 2026, seiring banyaknya sentimen negatif dari dalam negeri dan luar negeri.
Pada perdagangan Senin (18/5/2026), sekitar pukul 14.27 WIB, nilai tukar rupiah sudah merosot ke level 17.671 per dolar AS.
"Dengan kecepatan perlemahan saat ini, mungkin saja (tembus Rp18.000 per dolar AS," kata Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong kepada Tribunnews.com.
Baca juga: Rupiah Makin Ambrol, Kurs Dolar AS di Money Changer Tembus Rp17.750
Lukman menjelaskan, rupiah yang kembali melemah akibat sentimen ketidakpastian global, yang membuat investor global mengalihkan dananya ke instrumen lebih stabil dan aman atau safe haven, seperti dolar AS maupun emas.
"Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off (aksi jual) semua asset termasuk obligasi, saham, crypto dan mata uang oleh kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi Jinping dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran," papar Lukman.
Kondisi global, terutama masih tegangnya konflik Iran-Amerika Serikat terkait Selat Hormuz, membuat harga minyak mentah dunia kembali naik.
Tercatat, harga minyak Brent kontrak Juli (LCOc1) berada di 111,24 dolar AS per barel dan minyak West Texas Intermediate (WTI/CLc1) naik ke 107,70 dolar AS per barel.
Dalam delapan hari perdagangan terakhir, Brent sudah melesat sekitar 11,2 persen, dari posisi 100,06 dolar AS per barel pada 7 Mei 2026 menjadi di atas 111 dolar AS per barel.
WTI bahkan naik lebih tajam, dari 94,81 dolar AS menjadi 107,70 dolar AS per barel.
Selain itu, Lukman menyebut pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menganggap enteng pelemahan rupiah disambut negatif dari investor.
Prabowo seakan tidak memperdulikan pelemahan rupiah karena orang desa dalam kehidupannya tidak menggunakan dolar AS.
"Pidato Prabowo umumnya juga direspon negatif investor dan tidak mendukung rupiah," ucap Lukman.
Solusi Tahan Pelemahan Rupiah
Lukman menyebut, langkah paling penting pemerintah dan BI saat ini adalah menjaga kepercayaan pasar agar pelemahan rupiah tidak berubah menjadi kepanikan.
Menurutnya, Bank Indonesia perlu tetap aktif melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar valas dan obligasi, serta menjaga suku bunga tetap kompetitif (menaikkan suku bunga) agar rupiah masih menarik bagi investor.
"Sedangkan pemerintah, disiplin fiskal dan komunikasi kebijakan yang jelas sangat penting agar investor tidak khawatir kondisi APBN maupun arah kebijakan ekonomi ke depan," ujarnya.
Dalam jangka menengah, kata Lukman, Indonesia juga perlu mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dan memperkuat sumber devisa dari ekspor serta investasi asing langsung (FDI).
"Sehingga fundamental rupiah menjadi lebih kuat dan tidak terlalu rentan terhadap gejolak global," tuturnya.
Membahayakan Masyarakat
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyampaikan, Presiden Prabowo perlu mendapat pengetahuan terkait dasar ilmu ekonomi, terkhusus nilai tukar.
"Jangan dikira pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang sudah Rp17.600, tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik, sampai ke level desa," ujar Bhima.
Ia menjelaskan, masyarakat di desa juga banyak menggunakan barang yang komponennya didapat dari impor, seperti handphone, kendaraan bermotor, televisi, hingga mesin cuci.
Kemudian, bahan bakar minyak (BBM) dan LPG masih dipenuhi dari impor untuk kebutuhan nasional.
Ia menyebut, barang-barang tersebut akan naik harganya ketika rupiah mengalami pelemahan.
"Lalu juga pupuk di sentra pertanian akan terpengaruh harganya kalau rupiah makin lama makin lemah. Itu semua tinggal menunggu waktu saja, sampai harganya akan menekanan masyarakat di pedesaan," ujar Bhima.
Selain harga barang yang naik, kata Bhima, pedesaan berpotensi dipenuhi masyarakat korban dari pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan yang terimbas dampak pelemahan rupiah.
"Bisa terjadi PHK massal dari pelemahan rupiah, dan desa akan dibanjiri oleh mereka jadi korban PHK di perkotaan. Kembali ke desa tapi dalam posisi tidak bekerja dan tidak berpenghasilan, ini akan menjadi beban desa," paparnya.
Bhima menyampaikan, saat ini banyak pemimpin negara lain mempersiapkan strategi-strategi menghadapi kondisi terburuk dengan adanya krisis energi global maupun gejolak kurs.
Namun, kata Bhima, Prabowo justru menantang ancaman yang ada tanpa ada persiapan.
"Jadi kami sangat menyesalkan, Prabowo menganggap enteng situasi sekarang. Saya kira cara sikap dan komunikasi seperti itu sangat sangat membahayakan ekonomi," ujar Bhima.
Orang Desa Tak Pakai Dolar AS
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyindir pihak-pihak yang kerap meramalkan ekonomi Indonesia akan mengalami kehancuran atau kolaps akibat fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Hal itu disampaikan Presiden Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026) pagi.
Prabowo menegaskan, kondisi pangan dan energi nasional saat ini berada dalam posisi yang aman.
Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat tidak perlu panik dengan pergerakan mata uang dolar AS karena fundamental ekonomi riil di tingkat daerah tetap berjalan baik.
"Rupiah begini, rupiah begini, apa, dolar begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya banyak negara panik, Indonesia masih oke. Kita banyak, banyak yang diberikan Yang Maha Kuasa," ujar Presiden Prabowo.
Kemudian, saat menghadiri peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo berkelakar mengenai pergerakan nilai tukar rupiah.
Ia mengaitkan situasi ekonomi nasional dengan ekspresi dari Menkeu RI Purbaya Yudhi Sadewa.
"Purbaya sekarang populer banget Purbaya itu. Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, enggak usah kau khawatir itu," seloroh Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo juga mengatakan bahwa fluktuasi nilai mata uang global ini sebenarnya tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat pedesaan.
Menurutnya, perputaran ekonomi mikro di daerah tidak bergantung penuh pada mata uang asing.
"Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar, bener enggak? Yang pusing ya yang itu, yang suka ke luar negeri, ayo siapa ini?" lanjut Presiden Prabowo.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.