Rupiah dan IHSG Anjlok, DPR: Bank Indonesia Sudah Kehilangan Trust
DPR dianggap telah kehilangan trust buntut anjloknya rupiah dan IHSG dalam beberapa hari belakang. DPR sampai mendesak agar Gubernur BI mundur.
Penulis:
Yohanes Liestyo Poerwoto
Editor:
Suci BangunDS
TRIBUNNEWS.COM - Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, mengkritik keras Bank Indonesia (BI) buntut nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus mengalami pelemahan.
Dia menyebut pada Senin (18/5/2026) hari ini, nilai tukar rupiah dan saham di IHSG menjadi tren terburuk sepanjang sejarah.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini sempat menembus Rp17.600.
Sementara, saham di IHSG anjlok hingga 4 persen di kisaran 6.436 poin.
Primus pun mempertanyakan langkah BI dalam mengatasi anjloknya nilai tukar rupiah dan IHSG ketika negara-negara lain terus memperbaiki kondisi masing-masing di tengah dinamika global seperti konflik di Iran.
"Nilai tukar rupiah kita jeblok di mana sekarang berada di rekor terendahnya terhadap dolar. Indeks kita juga merosot turun di mana Indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal (konflik di Iran) itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya dan mereka sudah rebound bahkan sudah plus."
"Dan Indonesia saat ini masih minus sampai 20 persen. Ini kan bagaimana global mempertanyakan kualitas Bank Indonesia kita, bank sentral ini," katanya dalam rapat kerja dengan BI di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Baca juga: Rupiah Bersiap Menuju ke Level Rp18.000 per Dolar AS di Akhir Mei 2026
Primus juga mengatakan bahwa lemahnya nilai tukar rupiah tidak hanya terhadap dolar AS tetapi seluruh mata uang negara lain seperti ringgit Malaysia, dolar Australia, hingga dolar Hong Kong.
Ia meminta agar BI membuat langkah cepat untuk mengatasi masalah ini.
"Ini kan harus kita lihat dengan realita. Kita nggak bisa berdiam diri," ujarnya.
Dia juga menyatakan bahwa bank sentral seakan menyepelekan masalah ini dan berujung pada kehilangan kepercayaan oleh masyarakat.
"Menurut saya, Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust. Bank Indonesia sudah menyampingkan kredibilitasnya," tuturnya.
Primus pun menyarankan agar Gubernur BI, Perry Warjiyo untuk mundur dari jabatannya jika tidak segera membuat kebijakan untuk mengatasi lemahnya nilai tukar rupiah dan IHSG.
Menurutnya, langkah itu menjadi bentuk tanggung jawab Perry buntut permasalahan ekonomi belakangan ini.
"Kalau kita mengambil tindakan gentlement, itu bukan penghinaan, pak. Saya berikan contoh, mungkin sekarang bapak mengundurkan diri. Nggak masalah, tapi itu bukan bentuk penghinaan pak," katanya di depan Perry.