Kemenperin dan LPEI Dorong Rendang Payakumbuh Tembus Pasar Ekspor
Kementerian Perindustrian terus memperkuat daya saing Industri Kecil dan Menengah (IKM) agar mampu menembus pasar global.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Kementerian Perindustrian memperkuat daya saing Industri Kecil dan Menengah (IKM) agar mampu menembus pasar global.
- Pendekatan OVOP difokuskan untuk mengangkat produk unggulan daerah agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
- Program OVOP sendiri telah dijalankan Kemenperin sejak 2013 melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA).
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perindustrian terus memperkuat daya saing Industri Kecil dan Menengah (IKM) agar mampu menembus pasar global.
Upayanya dilakukan melalui kolaborasi dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dalam pengembangan sentra IKM berbasis potensi daerah lewat program One Village One Product (OVOP).
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pendekatan OVOP difokuskan untuk mengangkat produk unggulan daerah agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
"Pendekatan OVOP diarahkan untuk mengangkat potensi unggulan daerah agar mampu menghasilkan produk yang berdaya saing, diterima pasar nasional maupun global, sekaligus memberikan dampak positif terhadap penguatan ekonomi daerah," tutur Agus dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).
Program OVOP sendiri telah dijalankan Kemenperin sejak 2013 melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA). Hingga kini, penghargaan OVOP sudah digelar lima kali, yakni pada 2013, 2015, 2018, 2022 dan 2024.
Pada 2026, Kemenperin menggandeng LPEI melalui sinergi Program OVOP Go Global dan Program Desa Devisa yang difokuskan pada pengembangan Sentra IKM Rendang Kota Payakumbuh, Sumatera Barat.
"Pemilihan Sentra IKM Rendang Kota Payakumbuh didasarkan pada kesiapan sumber daya manusia, kualitas produk, kelembagaan sentra, serta potensi pengembangan pasar ekspor yang sangat menjanjikan," ucap Agus.
Baca juga: Rupiah Terus Melemah, Industri Lokal Lebih Kompetitif di Pasar Ekspor
Selain pembinaan usaha, sentra tersebut juga mendapat dukungan Dana Alokasi Khusus untuk revitalisasi fasilitas produksi guna memperkuat posisi rendang sebagai produk unggulan ekspor.
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Reni Yanita menyebut, pendampingan juga mencakup implementasi teknologi industri 4.0 untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.
"Dukungan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi, konsistensi mutu, higienitas produk, kapasitas produksi, serta kesiapan IKM rendang dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun standar pasar ekspor global," ungkap Reni.
Sekretaris Ditjen IKMA Yedi Sabaryadi menyatakan, berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 3174 Tahun 2024, terdapat 113 IKM OVOP di Indonesia dari berbagai sektor, mulai makanan dan minuman hingga kerajinan. Sumatera Barat tercatat memiliki 22 IKM OVOP, terbanyak kedua setelah DI Yogyakarta.
Menurut Yedi, program pendampingan dirancang sesuai kebutuhan pasar ekspor, termasuk melalui proses kurasi produk dan promosi kepada buyer internasional.
Baca juga: Toyota Perluas Pasar Ekspor Mobil CBU ke Negara-negara Global South
Pelaku Usaha Rendang Riry Haris Budiman mengaku, program OVOP membantu pengembangan usahanya sejak mengikuti program tersebut pada 2013. Kini kapasitas produksinya mencapai 200 kilogram per hari dengan dukungan 12 tenaga kerja.
Sementara pemilik Rendang Gadih Dedy Syandera Putera menyebut program OVOP membantu peningkatan kualitas produk hingga perluasan pasar ekspor. Produk Rendang Gadih kini telah dipasarkan ke Australia, Taiwan dan Jerman.