Mamnich: Melestarikan Wastra Nusantara Lewat Tas Etnik dan Sentuhan Kaum Perempuan
Mamnich, UMKM tas etnik di Solo milik Adi-Fransiska, berdayakan ibu-ibu single parent dan berhasil menembus BRI UMKM EXPO(RT) 2025.
Penulis:
Endra Kurniawan
Editor:
Tiara Shelavie
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan
TRIBUNNEWS.COM - Di sebuah ruangan berukuran 3x5 meter, Ririn (47) dan Yuni (53) tenggelam dalam kesibukan.
Keduanya telaten menyusun dan menggunting pola bahan pembuatan tas etnik di Workshop Mamnich, Jalan Merbabu Raya, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Pekerjaan ini bukan hal baru. Bertahun-tahun pengalaman telah menempa Ririn dan Yuni menjadi perajin terampil. Mereka mengolah kain menjadi produk fesyen yang sarat nilai budaya tradisional dan kearifan lokal.
Ririn mengenang kembali titik balik hidupnya pada 2019. Saat itu, ia terpaksa meninggalkan pekerjaannya sebagai penyablon di sebuah pabrik plastik. Tempatnya bekerja gulung tikar setelah sang pemilik meninggal.
Berstatus sebagai orang tua tunggal, Ririn tak punya banyak pilihan. Ia harus segera bangkit dan mencari penghidupan baru demi keluarganya.
Di tengah situasi sulit itulah, datang uluran tangan dari pasangan suami istri pemilik Mamnich, Adi Budiarto dan Fransiska.
“Sudah ikut bekerja dengan Pak Adi sekitar tujuh tahun. Saya karyawan pertama beliau. Saya bersyukur punya bos yang bijak, jadi saluran berkat untuk orang lain,” ujar Ririn.
Kisah serupa juga dialami Yuni. Di usianya yang tak lagi muda, ia senang masih diberi kesempatan untuk bekerja. Umur kepala lima sering kali menjadi penghalang untuk diterima di dunia kerja formal.
“Awalnya saya cuma ibu rumah tangga. Alhamdulillah usia segini masih dipakek,” kata Yuni tersenyum.
Jalan Berliku Mamnich
Adi mengisahkan perjalanan membangun usaha bersama sang istri didorong harapan meraih kehidupan yang lebih baik. Keduanya sempat bekerja di Jepang. Adi sebagai teknisi listrik, sementara Fransiska berprofesi sebagai perawat.
Pada 2015, mereka memutuskan kembali ke Indonesia dan merintis usaha warung internet (warnet). Namun, sayangnya usaha tersebut harus gulung tikar.
Tidak menyerah, Adi kemudian mendirikan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Bahasa Jepang. Meski sempat membuahkan hasil, lagi-lagi bisnis Adi menemui jalan berliku.
Harapan kemudian datang di 2020. Berbekal keahlian crafting yang dimiliki Fransiska, Adi memutuskan membuka usaha pembuatan bantal print, cikal bakal Mamnich–diambil dari Mama Nicholas sapaan akrab Fransiska di sekolah anaknya.
“Bikin usaha Mamnich enggak langsung berhasil. Prosesnya lama kita gonta-ganti usaha,” kata Adi, Senin (2/2/2026).