Pengamat: Pidato Prabowo Realistis dan Bisa Tenangkan Pasar, Rupiah Segera Menguat
Pengamat menilai, pidato Presiden Prabowo Subianto di Rapat Paripurna DPR hari ini memberi sentimen positif bagi pasar keuangan Tanah Air.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Pengamat menilai, pidato Presiden Prabowo Subianto di Rapat Paripurna DPR hari ini memberi sentimen positif bagi pasar keuangan Tanah Air.
- Prabowo dinilai mengikuti arahan-arahan dari para pembantu presiden, pasar pun senang.
- Pasar menyambut positif pidato Presiden karena lebih menitikberatkan pada perbaikan ekonomi nasional dibanding retorika politik.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR hari ini memberi sentimen positif bagi pasar keuangan Tanah Air.
Ibrahim mengatakan, isi pidato Prabowo lebih realistis dan fokus pada kondisi ekonomi nasional, sehingga mampu meningkatkan optimisme terhadap penguatan rupiah.
"Bagus pidatonya. Di luar dugaan, bagus, sesuai dengan koridor fakta yang ada. Intinya di sini bahwa Pak Prabowo ini menargetkan pertumbuhan tahun 2027 itu di 5,8 sampai 6,5 persen," tutur Ibrahim saat dihubungi Tribunnews.com, Rabu (20/5/2026).
Selain itu, pemerintah juga menargetkan defisit fiskal berada di kisaran 1,8 persen hingga 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Target tersebut menunjukkan pemerintah berupaya menjaga disiplin fiskal.
Ibrahim juga menyoroti target nilai tukar rupiah dalam APBN 2027 yang dipatok di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS. Target itu lebih realistis dibanding asumsi sebelumnya.
"Ini sudah cukup bagus. Artinya nih bener-bener Pak Prabowo mengikuti arahan-arahan dari pembantu-pembantu presidennya. Kemarin kan berbeda, kemarin (tahun lalu target) Rp 16.500, nyatanya kan Rp 17.600. Jadi sedikit terganggu," jelasnya.
Menurut Ibrahim, pasar menyambut positif pidato Presiden karena lebih menitikberatkan pada perbaikan ekonomi nasional dibanding retorika politik.
Baca juga: Prabowo Heran Ekonomi Tumbuh 5 Persen tapi Rakyat Makin Miskin
"Pidato ini sebenarnya membuat pasar itu senang. Dengan pidato presiden yang menurut saya nggak berapi-api kayak sebelumnya. Tetapi benar ini menyasar terhadap bagaimana kondisi ekonomi Indonesia itu membaik," terangnya.
Rupiah Bisa Kembali Menguat
Ia menambahkan, peluang rupiah kembali menguat hingga di bawah level Rp 17.000 masih terbuka, terutama jika harga minyak dunia tetap terkendali dan tidak ada eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
"Semoga di tahun 2027 tidak ada perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz, sehingga harga minyak ini bisa di bawah 80 dolar per barel," ujar Ibrahim.
Menurut dia, jika harga minyak berada di bawah 80 dolar AS per barel, maka tekanan terhadap rupiah akan berkurang signifikan.
"Kalau harga minyaknya di bawah 80 dolar ya kemungkinan besar rupiah ini akan balik lagi ke di bawah level Rp 17.000," jelas Ibrahim.
Baca juga: Prabowo Minta Bea Cukai Dibenahi, Ganti Dirjen Jika Tak Mampu
Selain faktor pidato Presiden, Ibrahim menilai arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia juga akan memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
"Kalau seandainya dibarengi dengan mempertahankan suku bunga, kemungkinan besar masih cukup bagus, tapi kemungkinan penguatan mata uang rupiah terjadi hanya hari ini imbas dari Prabowo efek," ucapnya.