Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

IHSG Kembali Merosot Usai Dibuka Menguat, Mulai Tinggalkan Level 6.300

Seiring berjalannya perdagangan, sekitar pukul 09.10, IHSG merosot 0,34 persen atau 21,22 poin ke level 6.297,28.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in IHSG Kembali Merosot Usai Dibuka Menguat, Mulai Tinggalkan Level 6.300
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
IHSG MELEMAH - Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta. IHSG dibuka menguat ke level 6.366,49 dari posisi penutupan perdagangan kemarin 6.318,50. 

Ringkasan Berita:
  • IHSG pada perdagangan Kamis pagi menguat 0,27 persen ke level 6.335,30 setelah dibuka di zona hijau.
  • Sentimen positif datang dari pidato Presiden Prabowo terkait target pertumbuhan ekonomi serta kepastian asumsi makro pemerintah.
  • Kenaikan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen juga menopang pasar dan mendorong penguatan rupiah terhadap dolar AS.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (21/5/2026) pagi bergerak di zona hijau.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka menguat ke level 6.366,49 dari posisi penutupan perdagangan kemarin 6.318,50.

Sejak dibuka pukul 09.00 WIB hingga 09.04 WIB, IHSG masih menguat 0,27 persen ke posisi 6.335,30.

Baca juga: Sore Ini IHSG Ditutup Melemah 52,1 Poin, Rupiah Menguat ke Rp17.653

Pada rentang waktu tersebut, IHSG bergerak pada rentang 6.333 hingga 6.378, dengan nilai transaksi Rp1,07 triliun yang melibatkan 1,7 miliar lembar saham.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, seiring berjalannya perdagangan, sekitar pukul 09.10, IHSG merosot 0,34 persen atau 21,22 poin ke level 6.297,28.

Sebelumnya, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menyampaikan, berdasarkan analisa teknikal, IHSG berupaya rebound atau menguat karena faktor oversold atau jenuh jual dari pelaku pasar.

Menurutnya, para pelaku pasar mulai mendapatkan kepastian ketika Presiden Prabowo Subianto memaparkan pidato dalam sidang paripurna DPR kemarin, terkait target pertumbuhan ekonomi yang realistis.

Misalnya pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen untuk tahun fiskal mendatang.

"Bersamaan dengan kepastian asumsi makro seperti target yield SBN (surat berharga negara), sehingga hal ini memberikan kepastian bagi market demi meredam risiko volatilitas," papar Nafan.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah pengetatan moneter yang lebih agresif dari ekspektasi konsensus dengan menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen. 

Padahal, konsensus sebelumnya memperkirakan kenaikan terbatas ke level 5,00%. Langkah ini diambil untuk meredam tekanan pelemahan nilai tukar rupiah yang belakangan ini cukup intensif. 

"Hal ini tentunya menjadi sentimen positif bagi Rupiah yang terpantau menguat 0,29% di level Rp17.653,5 per dolar AS," ujar Nafan.

Dari global, dinamika tensi geopolitik AS-Iran masih menjadi sentimen utama bagi pasar saham, dimana Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa AS berada dalam "tahap akhir" pembicaraan damai dengan Iran.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas