Investor Ritel 'Nangis' Sahamnya Makin Ambles
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pukul 15.41 WIB, sudah ambles 3,60 persen atau 227,52 poin ke level 6.090,98.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Diketahui, tekanan IHSG dimulai sejak akhir Januari 2026 usai penyedia indeks global MSCI memutuskan untuk evaluasi indeks saham Indonesia dibekukan pada Februari 2026.
Sentimen tersebut langsung memicu aksi jual investor asing yang membuat IHSG ambles.
Belum pulih dari tekanan tersebut, pasar kembali dihantam eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya memanasnya hubungan Iran dan Amerika Serikat.
Ketegangan geopolitik global mendorong investor asing keluar dari aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia, dan beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Di tengah kondisi pasar yang sensitif, sejumlah pernyataan Presiden Prabowo Subianto turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Salah satunya ketika Prabowo menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS dalam kehidupan sehari-hari saat merespons pelemahan rupiah.
Pernyataan tersebut dinilai sebagian investor sebagai sinyal pemerintah belum melihat pelemahan rupiah sebagai persoalan serius bagi dunia usaha dan pasar keuangan.
Tekanan pasar semakin besar setelah pemerintah mengumumkan kebijakan ekspor sumber daya alam (SDA) wajib dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk sebagai eksportir tunggal.
Kebijakan yang bertujuan memperkuat pengawasan ekspor itu justru memunculkan kekhawatiran investor terhadap potensi meningkatnya intervensi pemerintah dalam aktivitas bisnis sektor strategis.