Mendag: Pelemahan Rupiah Peluang untuk Dongkrak Ekspor
Pelemahan nilai tukar rupiah saat ini dinilai menjadi peluang bagi eksportir untuk menggenjot ekspor komoditasnya ke luar negeri.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Pelemahan nilai tukar rupiah saat ini dinilai menjadi peluang bagi eksportir untuk menggenjot ekspor komoditasnya ke luar negeri.
- Senin awal pekan ini nilai tukar rupiah kembali melemah di pasar spot sebesar 0,15 persen menjadi Rp 17.744 per dolar AS.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah saat ini dinilai menjadi peluang bagi eksportir untuk menggenjot ekspor komoditasnya ke luar negeri.
Pelemahan rupiah yang hari ini berada di level Rp 17.746 per dolar AS membuat produk asal Indonesia lebih kompetitif di pasar luar negeri.
"Justru sebenarnya kita ingin mendorong teman-teman itu untuk meningkatkan ekspor produk-produk lokal. Ketika rupiah melemah seharusnya daya saing kita bagus kan. Harganya berarti murah di pasar internasional," kata Menteri Perdagangan Budi Santoso di Kementerian Perdagangan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).
Pemerintah terus mendorong pelaku usaha, termasuk eksportir muda, agar memanfaatkan momentum pelemahan rupiah untuk memperluas pasar ekspor.
Budi bilang pihaknya telah berkomunikasi dengan sejumlah komunitas eksportir muda dan KPII untuk mendorong percepatan ekspor produk lokal.
Baca juga: Kemendag Jamin Aturan Ekspor Tak Berubah Meski DSI Jadi Eksportir Tunggal
"Kemarin kita juga komunikasi dengan teman-teman eksportir yang anak-anak muda. Kemudian kemarin juga dengan KPII yang untuk mendorong supaya produk-produk lokal itu dipacu ekspornya. Karena ini kesempatan sebenarnya," terangnya.
"Ini sebenarnya kesempatan karena dengan nilai rupiah seperti ini ya kita harganya lebih kompetitif untuk pasar ekspornya," kata dia.
Hari Ini Rupiah Kembali Melemah
Senin awal pekan ini nilai tukar rupiah kembali melemah di pasar spot sebesar 0,15 persen menjadi Rp 17.744 per dolar AS. Kurs rupiah Jisdor hari ini melemah Rp 44 atau 0,25 persen menjadi Rp 17.717 per dolar AS.
Pelemahan rupiah hari ini merupakan anomali di pasar valas Asia. Selain rupiah, seluruh mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS.
Rupee India menguat 0,39 persen setelah gubernur bank sentral mengatakan bahwa rupee kemungkinan besar undervalued.
Baca juga: Ekonom Setuju BI Naikkan Suku Bunga Demi Stabilkan Nilai Rupiah, Apa Dampaknya untuk Masyarakat?
Baht Thailand menguat 0,55 persen dan Peso Filipina menguat 0,37 persen. Ringgit Malaysia menguat 0,34 persen. Sementara, Dolar Taiwan menguat 0,30 persen, Won Korea menguat 0,26 persen dan Yuan China menguat 0,20 persen.
Mengutip Kontan, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia melemah 0,18 persen menjadi 99,06 persen. Indeks dolar melemah sejak akhir pekan.
Pelemahan dolar ini terjadi meski harga minyak juga turun. Harga minyak melemah setelah para pejabat AS mengisyaratkan bahwa AS hampir mencapai kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan aliran minyak.