Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

IHSG dan Rupiah Kompak Berakhir Ambruk, Pasar Dibayangi Konflik Timur Tengah

IHSG sesi pertama sempat menguat cukup solid di awal-awal sesi perdagangan, namun IHSG gagal mempertahankan momentum naik.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in IHSG dan Rupiah Kompak Berakhir Ambruk, Pasar Dibayangi Konflik Timur Tengah
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
IHSG MELEMAH - Pengunjung melihat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. IHSG ditutup merosot 1,23 persen atau 76,16 poin ke level 6.130,19 dari posisi penutupan kemarin 6.206,35. 

Lebih jauh, tanggapan dari pemerintah Iran di Teheran terhadap serangan baru ini juga belum memberikan efek yang jelas.

Kata dia, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran. 

"Terutama setelah Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut," kata Ibrahim.

Selain itu, pasar juga menyoroti isyarat yang disampaikan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini terkait kemajuan negosiasi dengan Iran.

Mereka mengklaim bahwa republik Islam tersebut akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya.

"Iran sebagian besar membantah rencana untuk melepaskan uraniumnya, meskipun laporan menunjukkan negara tersebut terbuka untuk negosiasi lebih lanjut mengenai aktivitas nuklirnya," kata dia.

Ibrahim lantas menilai kalau kombinasi sentimen global tersebut yang membuat rupiah sulit untuk menguat dalam jangka pendek.

Rekomendasi Untuk Anda

Tak hanya faktor dari eksternal, melemahnya rupiah juga kata dia, dipengaruhi oleh faktor di dalam negeri atau internal.

Kata Ibrahim, krisis kepercayaan yang berdampak terhadap krisis ekonomi sudah mulai nampak didepan mata akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang belum jelas sampai kapan pelemahan ini akan terjadi.

Kondisi itu juga kata dia, berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Lonjakan PHK terjadi hanya dalam satu bulan terakhir. Kondisi tersebut mulai berdampak pada sejumlah perusahaan yang melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional," kata dia.

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas