Rupiah Menguat 76 Poin, Sentimen Timur Tengah Masih Dominan
Sore ini rupiah ditutup menguat 76 poin ke level Rp 17.805 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.880 per dolar AS.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Sore ini rupiah ditutup menguat 76 poin ke level Rp 17.805 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.880 per dolar AS.
- Faktor rupiah menguat saat libur awal pekan ini adalah terbitnya aturan baru devisa hasil ekspor yang harus diparkir di perbankan nasional atau Himbara.
- Eksportir nonmigas wajib menempatkan devisa hasil ekspornya di dalam negeri minimal 12 bulan dan eksportir migas wajib menempatkan minimal 30 persen devisa hasil ekspornya di dalam negeri selama 3 bulan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin (1/6/2026) di tengah kombinasi sentimen domestik dan global yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan.
Penguatan terjadi di tengah penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) karena meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan sore ini rupiah ditutup menguat 76 poin ke level Rp 17.805 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.880 per dolar AS. Pada sesi perdagangan, rupiah bahkan sempat menguat hingga 95 poin.
Dari eksternal, pasar masih mencermati perkembangan negosiasi gencatan senjata permanen antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Ketidakpastian tersebut masih memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran energi global di Selat Hormuz.
"Investor semakin mengalihkan fokus ke kemungkinan pengetatan moneter AS lebih lanjut. Mereka sebelumnya mengharapkan pemotongan suku bunga sebelum perang dimulai."
"Para pedagang sekarang mengamati dengan cermat pidato dari para pejabat Federal Reserve dan data ekonomi AS yang akan datang, termasuk indikator pasar tenaga kerja, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang prospek suku bunga," tutur Ibrahim dalam keterangannya kepada Wartawan, Senin (1/6/2026).
Ketegangan geopolitik juga meningkat setelah Israel memperluas operasi militernya terhadap Hizbullah di Lebanon. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menambah kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Dari dalam negeri, pasar merespons implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026.
Baca juga: Ferry Latuhihin Prediksi Juli-Desember Rupiah Bisa Capai Rp25 Ribu Per Dolar AS: Bukan Nakut-nakutin
Aturan tersebut mewajibkan eksportir Sumber Daya Alam (SDA) merepatriasi 100 persen Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke dalam negeri dan menempatkannya pada rekening khusus di bank-bank Himbara.
Eksportir nonmigas wajib menempatkan devisa hasil ekspornya di dalam negeri selama minimal 12 bulan dan eksportir migas wajib menempatkan sedikitnya 30 persen devisa hasil ekspornya di dalam negeri selama tiga bulan.
Ibrahim menambahkan, yang membuat rupiah menguat saat libur awal pekan ini adalah terbitnya aturan baru devisa hasil ekspor yang harus diparkir di perbankan nasional atau Himbara.
"Ini cukup bagus. Kalau saya lihat dalam perdagangan hari ini sebenarnya dolar menguat. Sempat juga mengalami pelemahan di 35 poin, tetapi kembali menguat. Bisa saja DHE ini berpengaruh tetapi sifatnya sementara," imbuhnya.
Baca juga: Hari Ini Rupiah Menguat, Purbaya Yakin Tren Berlanjut 2 Bulan ke Depan
Selain itu, pemerintah juga mulai menerapkan kebijakan ekspor satu pintu secara bertahap mulai hari ini. Masa transisi akan berlangsung hingga awal 2027 dengan evaluasi pada tiga bulan pertama untuk memastikan implementasi berjalan tanpa mengganggu aktivitas ekspor.
Menurut Ibrahim, kombinasi sentimen tersebut masih akan membuat pergerakan rupiah berfluktuasi pada perdagangan berikutnya.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.800 - Rp 17.850," terang Ibrahim.