Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Rupiah Melemah ke Rp 17.885 per Dolar AS, Daya Beli Masyarakat Merosot

Nilai tukar rupiah hari ini dibuka melemah ke level Rp 17.885 per dolar Amerika Serikat (AS) atau turun sekitar 80,5 poin.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Rupiah Melemah ke Rp 17.885 per Dolar AS, Daya Beli Masyarakat Merosot
SURYA/SURYA/PURWANTO
RUPIAH KEMBALI MELEMAH - Nilai tukar rupiah hari ini dibuka melemah ke level Rp 17.885 per dolar Amerika Serikat (AS) atau turun sekitar 80,5 poin, Selasa, 2 Juni 2026. Pelemahan rupiah berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. 

Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah hari ini dibuka melemah ke level Rp 17.885 per dolar Amerika Serikat (AS) atau turun sekitar 80,5 poin. 
  • Pelemahan rupiah berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
  • Kenaikan harga barang impor seperti kedelai, jagung, pupuk, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya diperkirakan akan meningkatkan beban masyarakat.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah hari ini dibuka melemah ke level Rp 17.885 per dolar Amerika Serikat (AS) atau turun sekitar 80,5 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pengamat Ekonomi, Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong penguatan indeks dolar AS.

"Hari ini rupiah dibuka melemah di Rp 17.885, hampir 80,5 poin pelemahan. Salah satu penyebabnya adalah tentang eskalasi di Timur Tengah," kata Ibrahim kepada Wartawan, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, sikap Iran yang semakin keras terhadap Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran baru di pasar keuangan global. Selain itu, potensi keterlibatan Iran dalam konflik Israel-Lebanon juga dinilai memperbesar risiko geopolitik dan mendorong investor kembali memburu aset dolar AS.

Sentimen eksternal lainnya datang dari Presiden AS Donald Trump yang menandatangani proklamasi terkait perubahan tarif impor sejumlah komoditas seperti tembaga, aluminium dan besi.

Rekomendasi Untuk Anda

Kebijakan tersebut dinilai menambah ketidakpastian pasar dan turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti kenaikan harga minyak mentah dunia yang berdampak pada meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor energi.

Indonesia saat ini mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari, dengan sekitar 85 persen digunakan untuk kebutuhan BBM bersubsidi.

Baca juga: IHSG Dibayangi Merosotnya Nilai Tukar Rupiah, Investor Asing Masih Angkat Kaki

"Kebutuhan dolar yang cukup tinggi membuat rupiah kembali mengalami pelemahan yang cukup tajam," terang Ibrahim.

Meskipun sebelumnya terdapat sentimen positif dari rencana penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri, kebijakan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan karena berkaitan dengan kerja sama para eksportir dengan mitra bisnis di luar negeri.

Menurutnya, pelemahan rupiah berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.

Kenaikan harga barang impor seperti kedelai, jagung, pupuk, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya diperkirakan akan meningkatkan beban masyarakat. "Kondisi tersebut ini berpengaruh sekali terhadap daya beli masyarakat. Harga-harga saat ini relatif lebih mahal," jelasnya.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga kebutuhan pokok juga berisiko mendorong inflasi. Jika tekanan inflasi terus meningkat, Bank Indonesia berpeluang menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan bulan Juni.

"Bisa saja dalam pertemuan di bulan Juni ini Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga 25 basis poin," ujarnya.

 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas