Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Kenaikan BI Rate dan Harga Pertamax Topang Penguatan Rupiah dan IHSG

Penguatan yang terjadi menjadi respon positif pasar terhadap sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Kenaikan BI Rate dan Harga Pertamax Topang Penguatan Rupiah dan IHSG
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
PENGUATAN IHSG - Pengamat berpendapat, penguatan nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) dua hari terakhir dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor domestik ketimbang sentimen global. Penguatan yang terjadi menjadi respon positif pasar terhadap sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 
Ringkasan Berita:
  • Pengamat berpendapat, penguatan nilai tukar rupiah dan IHSG dua hari terakhir dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor domestik ketimbang sentimen global.
  • Penguatan yang terjadi menjadi respon positif pasar terhadap sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia.
  • Keputusan pemerintah menaikkan harga Pertamax turut memberikan sentimen positif bagi pasar.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penguatan nilai tukar rupiah ke level Rp 17.942  dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor domestik ketimbang sentimen global.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan potensi kenaikan inflasi di Amerika Serikat, pasar keuangan Indonesia justru menunjukkan pergerakan positif.

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah dan IHSG saat ini tidak berasal dari faktor eksternal, meski situasi global masih dibayangi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

"Hari ini rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat. Penguatan mata uang rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan bukan disebabkan oleh masalah eksternal. Kalau kita lihat secara eksternal seharusnya rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan ini mengalami pelemahan," tutur Ibrahim kepada Wartawan, Rabu (10/6/2026).

Ibrahim menilai penguatan yang terjadi justru merupakan respons positif pasar terhadap sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia.

Salah satu faktor utama adalah langkah cepat Bank Indonesia yang kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Rekomendasi Untuk Anda

Dengan kenaikan terbaru tersebut, total kenaikan suku bunga BI dalam beberapa bulan terakhir telah mencapai 75 basis poin, menjadi 5,5 basis poin.

"Apa yang membuat rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan di hari ini mengalami penguatan adalah salah satunya adalah Bank Indonesia yang kemarin secara sigap menaikkan suku bunga 25 basis poin. Yang kita lihat bulan sebelumnya itu adalah 50 basis poin. Artinya apa? Sudah 75 basis poin," imbuhnya.

Baca juga: Tak Ada Pergantian Menkeu, Pengamat Tanggapi Rupiah dan IHSG yang Kompak Menguat

Ia memperkirakan Bank Indonesia masih berpotensi melanjutkan siklus kenaikan suku bunga hingga akhir tahun guna menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mendukung kebutuhan pembiayaan pemerintah melalui penerbitan surat utang negara.

Menurut Ibrahim, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang telah mencapai sekitar 7,4 persen juga berpotensi menarik kembali minat investor asing ke pasar Indonesia.

Selain kebijakan moneter, Ibrahim menilai keputusan pemerintah menaikkan harga Pertamax turut memberikan sentimen positif bagi pasar.

Kebijakan tersebut dinilai membantu mengurangi beban subsidi energi yang selama ini membebani anggaran negara.

"Pemerintah juga sudah merespon apa keinginan dari kami sebagai seorang pengamat ekonomi, di mana harga Pertamax sudah dinaikkan," ujarnya.

Baca juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 18.058 per Dolar AS usai BI Naikkan BI-Rate 

Ia mengungkapkan realisasi subsidi dan kompensasi energi dalam lima bulan pertama tahun ini telah mencapai Rp 203,7 triliun atau lebih dari separuh pagu APBN sebesar Rp 381,3 triliun.

Oleh karena itu, kenaikan harga Pertamax dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap anggaran negara sekaligus meningkatkan kepercayaan pelaku pasar terhadap kemampuan pemerintah menjaga fiskal.

"85 persen subsidi kemungkinan besar akan sedikit menyusut dan inilah yang membuat pasar kembali percaya terhadap pemerintah," jelas Ibrahim.

Menurut dia, kombinasi kebijakan Bank Indonesia dan langkah pemerintah dalam mengelola subsidi energi menjadi faktor utama yang mendorong penguatan rupiah dan IHSG.

Dengan kondisi tersebut, ia meyakini skenario pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp 19.000 per dolar AS dapat dihindari.

"Ini yang dilakukan oleh pemerintah dan saya sebagai seorang pengamat ekonomi percaya bahwa apabila pemerintah merespon kebijakan-kebijakan dari para pengamat, kemungkinan besar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan akan kembali menguat. Dan mencapai level Rp 19.000 kemungkinan besar tidak akan terjadi," ucap Ibrahim.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas