Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Warung Madura Menjerit, Harga Bahan Pokok Melejit Untung Makin Menipis

Pedagang sembako Warung Madura di Jakarta mengeluhkan lonjakan harga bahan kebutuhan pokok belakangan ini. 

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Warung Madura Menjerit, Harga Bahan Pokok Melejit Untung Makin Menipis
Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra
HARGA KEBUTUHAN POKOK NAIK - Yogi (24) pengelola warung sembako Madura di Jalan TPU Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2026)  
Memuat video…

Ringkasan Berita:
  • Pedagang sembako Warung Madura di Jakarta mengeluhkan lonjakan harga bahan kebutuhan pokok belakangan ini. 
  • Lonjakan harga membuat margin pedagang turun karena berusaha menahan harga tidak naik demi menjaga pelanggan agar tidak lari.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Pedagang sembako Warung Madura di Jakarta mengeluhkan lonjakan harga bahan kebutuhan pokok belakangan ini. 

Yogi (24) yang mengelola Warung Madura di Jalan TPU Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengatakan, selain bahan kebutuhan pokok, harga rokok juga ikut naik. 

Lonjakan harga ini membuatnya berhati-hati menentukan harga jual agar pelanggan tidak kabur.

"Kalo sekarang pada naik, mah naik bang ini harga semuanya, beras, rokok itu yang paling parah," kata Yogi kepada Tribunnews.com, Jumat siang, 12 Juni 2026.

Dia mengatakan, lonjakan harga kebutuhan pokok itu diperparah dengan naiknya harga bahan bakar minyak nonsubsidi. Pihaknya sebisa mungkin menahan harga jual dan mengambil keuntungan yang lebih sedikit.

Rekomendasi Untuk Anda

Yogi menjelaskan, untuk menjual beras saat ini, dirinya mengaku hanya mengambil untung Rp30.000 untuk setiap satu karung beras yang diakui Yogi margin tersebut lebih rendah dari yang selama ini dia dapat.

"Iya (sekarung itu) Rp30.000 (untungnya). Sedangkan plastik kan mahal, plastik satu ikat Rp85.000-an plastiknya. Kalau dihitung-hitung mah ya gitu dah, tipis banget," ucap Yogi.

Yogi berharap pemerintah serius memperhatikan kondisi rakyat kecil saat ini dengan tidak menerapkan kebijakan yang membuat keadaan makin sulit.

Dia mencontohkan, keputusannya menahan harga jual agar tidak naik sebenarnya mengorbankan diri sendiri demi bisa menjaga daya beli masyarakat.

Baca juga: Kenaikan BI-Rate Jadi 5,50 Persen Akan Mengerem Pertumbuhan KPR 

"Kita yang ngorbanin diri sendiri kadang, ambil untungnya dikit demi pelanggan nggak lari gitu. Pemerintah itu, kita udah bingung mau ngomong apa udah terlalu kacau ya," sambung Yogi.

Keluhan senada juga diutarakan Rian (20) pengelola Warung Madura lainnya di Jalan Sagu, Kebagusan Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2026).

Rian mengaku bingung menyikapi keluhan pembeli soal naiknya harga bahan pokok. Kata dia, banyak pembeli yang terkejut saat dirinya menyebut harga baru beberapa item dagangan seperti halnya beras.

"Biasanya beras sekitar Rp15.000, sekarang naik jadi Rp16.000, Kaget mereka, iya Kok naik... Bang?," ucap Rian. Dia juga mengaku saat ini kenaikan harga turut terjadi untuk kebutuhan air mineral.

Baca juga: Fluktuasi Harga Sembako di Jakarta, Pedagang di Pademangan dan Cipete Keluhkan Sepi Pembeli

Menurut dia, harga kulakan air mineral saat ini sudah naik mulai dari Rp1.000 hingga Rp2.000 per galon. Hal itu membuat dia berusaha menahan kenaikan harga jual air mineral galon.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas