Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Riset Ungkap AI Lebih Sering Kutip Sumber Lain Ketimbang Situs Resmi Perusahaan

AI kini berperan sebagai kurator informasi yang menentukan sumber mana yang dianggap paling relevan dan kredibel.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Sanusi
zoom-in Riset Ungkap AI Lebih Sering Kutip Sumber Lain Ketimbang Situs Resmi Perusahaan
Forbes
ILUSTRASI AI - Riset AI Citation Audit mengungkap fenomena AI Citation Gap, yakni ketika AI merekomendasikan suatu merek tetapi mengutip informasi dari sumber lain, bukan website resmi perusahaan 
Memuat video…

Ringkasan Berita:
  • Riset AI Citation Audit mengungkap fenomena AI Citation Gap, yakni ketika AI merekomendasikan suatu merek tetapi mengutip informasi dari sumber lain, bukan website resmi perusahaan
  • Temuan ini menunjukkan perusahaan berisiko kehilangan kendali atas narasi produknya di era AI Search.
  • Peneliti juga memperkenalkan konsep AI Visibility Optimization (AIVO) sebagai strategi baru agar merek tetap menjadi rujukan AI.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perusahaan berpotensi kehilangan kendali atas informasi mengenai produk dan layanannya di era kecerdasan buatan (AI).

Riset terbaru menemukan sistem AI sering merekomendasikan suatu merek kepada pengguna tetapi menggunakan sumber informasi dari luar situs resmi perusahaan.

Baca juga: Di Masa Datang, AI Tak Hanya Jadi Alat Bantu Tapi Jadi Inti Operasional di Perusahaan 

Fenomena tersebut dikenal sebagai AI Citation Gap, yakni kondisi ketika AI mengutip informasi dari media sosial, marketplace, blog, atau situs pihak ketiga saat menjawab pertanyaan pengguna.

Dalam riset AI Citation Audit yang dilakukan oleh praktisi pengembangan penjualan sekaligus kandidat doktoral Universitas Prasetiya Mulya, Dedy Budiman, M.Pd mengatakan, perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor utama munculnya fenomena tersebut.

"Jika sebelumnya pengguna mengandalkan mesin pencari untuk menemukan informasi, kini semakin banyak yang langsung bertanya kepada AI dan menerima jawaban yang telah dirangkum secara instan," kata Dedy, Sabtu (13/6/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Penelitian yang dilakukan melalui audit terhadap Google AI Mode itu melibatkan 32 responden dengan 16 prompt standar pada sektor properti. Dari penelitian tersebut terkumpul 1.842 URL yang berasal dari 222 domain unik.

Dikatakannya, AI kini berperan sebagai kurator informasi yang menentukan sumber mana yang dianggap paling relevan dan kredibel.

Baca juga: Siri AI Hanya Hadir di Perangkat Apple Tertentu, Ini Daftar Lengkapnya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs resmi perusahaan sering kali bukan menjadi sumber utama yang dirujuk AI.

Sebaliknya, AI lebih banyak mengutip informasi dari media sosial, marketplace, blog perbandingan produk, hingga situs internasional dan sebanyak 61,8 persen sumber yang dikutip bahkan berasal dari domain luar Indonesia.

Dedy menilai kondisi tersebut terjadi karena banyak situs perusahaan masih berfungsi sebagai katalog digital yang hanya menampilkan spesifikasi produk tanpa menjawab kebutuhan informasi konsumen.

Menurutnya, konsumen umumnya mencari informasi seperti perbandingan produk, keunggulan, cara memilih, hingga kisaran harga. Ketika informasi tersebut tidak tersedia di situs resmi, AI akan mengambil referensi dari sumber lain yang dianggap lebih lengkap.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Dedy memperkenalkan konsep AI Visibility Optimization (AIVO) yang bertujuan membantu perusahaan memastikan merek mereka dipahami dan direpresentasikan secara akurat oleh sistem AI melalui konten yang edukatif, komprehensif, dan kredibel.

Baca juga: Adang Ancaman AI, Kurikulum Kampus Teknik Mulai Diselaraskan ke Pabrik

Ia menambahkan, ukuran keberhasilan strategi digital kini tidak hanya ditentukan oleh jumlah kunjungan ke situs, tetapi juga kemampuan perusahaan menjaga akurasi informasi yang digunakan AI saat menjawab pertanyaan konsumen.

Temuan tersebut mendapat dukungan dari Co-Provost 1 Universitas Prasetiya Mulya sekaligus dosen pembimbing penelitian, Dr.rer.pol. Christiana Yosevina dan mendorong organisasi perlu meninjau ulang strategi komunikasi digital mereka seiring meningkatnya penggunaan AI dalam pencarian informasi.

"Tantangan perusahaan tidak lagi sekadar ditemukan secara online, tetapi juga dipahami dengan benar oleh AI. Kualitas konten dan kredibilitas sumber kini menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen," ujarnya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas