Ekonom Jelaskan Alasan Naiknya Harga Pertamax Jadi Rp16.250 per Liter
Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia memaksa Pertamina harus terus menanggung selisih harga melalui dana talangan.
Penulis:
Danang Triatmojo
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Ekonom Unesa Hendry Cahyono mengatakan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM Ron 92 (Pertamax) menjadi Rp16.250 per liter tidak bisa dihindari.
- Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia memaksa Pertamina harus terus menanggung selisih harga melalui dana talangan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ekonom dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono mengatakan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM Ron 92 (Pertamax) menjadi Rp16.250 per liter tidak bisa dihindari.
Alasannya, gejolak geopolitik global khususnya di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, dibarengi dengan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
Soal kenaikan yang cukup tinggi nyaris Rp4.000 per liter, Hendry menjelaskan hal itu karena pemerintah sempat menahan harga BBM domestik untuk beberapa bulan, sebelum akhirnya dilepas mengikuti mekanisme pasar.
“Akhirnya setelah beberapa waktu ditahan, BBM nonsubsidi tidak bisa lagi ditahan sehingga dilepas mengikuti mekanisme pasar. Karena itu kenaikan yang sekarang terjadi cukup tinggi. Mau tidak mau Pertamax harus naik,” kata Hendry saat dihubungi, Minggu (14/6/2026).
Hendry menjelaskan, selama ini Pertamina menggunakan dana talangan perusahaan untuk menahan Pertamax di bawah harga keekonomian.
Namun, kata dia, dana talangan Pertamina pada dasarnya merupakan instrumen sementara untuk meredam lonjakan harga agar tidak langsung dirasakan masyarakat.
Ketika kurs rupiah dan harga minyak terus bergerak naik, ruang untuk mempertahankan kebijakan tersebut semakin sempit.
"Dana talangan Pertamina ini juga terbatas. Karena Pertamax ini kan BBM nonsubsidi. Tidak ada subsidi APBN di dalamnya. Jadi memang murni mengikuti harga pasar," jelas Hendry.
Baca juga: Saran Akademisi kepada Pemerintah Pasca-Kenaikan Harga Pertamax
Jika Pertamina terus-menerus menanggung selisih harga tanpa penyesuaian, kondisi tersebut dapat menggerus keuntungan perusahaan.
Dampaknya bukan hanya terhadap setoran dividen dan kontribusi perusahaan kepada negara, tetapi juga terhadap persepsi investor dan lembaga pemeringkat terhadap kinerja keuangan Pertamina.
"Investor melihat rasio keuntungan dan kinerja keuangan. Kalau terus merugi, siapa yang mau berinvestasi?" katanya.
Dalam jangka pendek, Hendry mengatakan penyesuaian harga Pertamax merupakan langkah yang lebih realistis dibanding terus memperbesar dana talangan.
Baca juga: Pertamax Naik Rp16.250 per Liter, Pertalite Mulai Kosong di Sejumlah SPBU Pulau Jawa
Sebab pada akhirnya beban yang ditanggung Pertamina akan kembali bermuara pada keuangan negara maupun kesehatan korporasi perusahaan energi pelat merah tersebut.
Sementara itu pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia memaksa Pertamina harus terus menanggung selisih harga melalui dana talangan.
Kondisi tersebut membuat biaya penyediaan energi nasional ikut meningkat karena formula harga BBM sangat bergantung pada harga minyak dunia dan kurs rupiah. Ia merujuk pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 19 Tahun 2019, di mana harga minyak mentah dunia bergantung pada nilai tukar dolar AS.