Rupiah Menguat ke Level Rp 17.708, Sentimen Positif Datang dari Turunnya Harga Minyak
Turunnya harga minyak mentah dunia dibawah 80 dolar AS per barel akan menjadi faktor positif bagi domestik
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Ibrahim menilai, turunnya harga minyak mentah dunia ke bawah level 80 dolar AS per barel memberikan dampak positif bagi perekonomian domestik.
- Stabilnya kondisi global turut mendorong masyarakat untuk melepas kepemilikan dolar AS dan beralih ke rupiah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup menguat tajam pada perdagangan Senin (15/6/2026) seiring membaiknya sentimen global.
Penurunan harga minyak mentah dunia, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta langkah kebijakan Bank Indonesia dinilai menjadi faktor utama yang menopang penguatan mata uang Garuda.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat tajam 151 poin, sebelumnya sempat menguat 185 poin di level Rp 17.708 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.860," ungkap Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi kepada Wartawan, Senin (15/6/2026).
Ibrahim menilai, turunnya harga minyak mentah dunia ke bawah level 80 dolar AS per barel memberikan dampak positif bagi perekonomian domestik.
"Turunnya harga minyak mentah dunia dibawah 80 dolar AS per barel akan menjadi faktor positif bagi domestik karena diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap defisit APBN, membuat pememerinta senang dan ketegangan berubah menjadi kegembiraan," tutur Ibrahim kepada Wartawan, Senin (15/6/2026).
Selain itu, pasar juga menyoroti potensi efisiensi anggaran pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta rencana penurunan target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih sebesar 50 persen.
Ibrahim menilai stabilnya kondisi global turut mendorong masyarakat untuk melepas kepemilikan dolar AS dan beralih ke rupiah.
Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan imbauan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang meminta masyarakat menukarkan dolar AS ke rupiah guna membantu menjaga stabilitas nilai tukar.
Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Senin 15 Juni 2026 Menguat terhadap Dolar AS
"Langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat menyentuh rekor terendah di kisaran Rp 18.200 per dolar AS. Langkah tersebut tepat dilakukan karena pemerintah tengah menyiapkan sejumlah strategi khusus untuk menguatkan rupiah," ucap Ibrahim.
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar kini menantikan hasil rapat Bank Indonesia pada pekan ini. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Dengan kenaikan tersebut, total pengetatan suku bunga sejak Mei mencapai 75 basis poin.
Menurut Ibrahim, kebijakan tersebut merupakan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global sekaligus menahan potensi keluarnya modal asing dari pasar domestik.
Sentimen positif lainnya datang dari perkembangan geopolitik Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pejabat Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia.
Kesepakatan tersebut memicu optimisme pasar karena berpotensi memulihkan pasokan minyak dan gas global yang sempat terganggu selama lebih dari tiga bulan akibat penutupan Selat Hormuz.
Selain itu, investor juga menaruh perhatian pada arah kebijakan sejumlah bank sentral dunia, terutama keputusan Federal Reserve (The Fed) yang untuk pertama kalinya dipimpin Ketua baru Kevin Warsh.
Akan tetapi, meredanya konflik geopolitik diperkirakan dapat mengurangi tekanan bagi sejumlah bank sentral untuk kembali memperketat kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
"Penyelesaian konflik yang cepat mungkin mencegah bank sentral lain, seperti Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), Bank of England (BoE) dan Federal Reserve (Fed), untuk memperketat kebijakan," jelasnya.