Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pakar Inggris Tegaskan, Asal Lakukan Tes Antibodi Bisa Berisiko Penularan Covid-19

Pakar Inggris menilai, tes antibodi untuk mengetahui status antibodi dalam tubuh yang tidak terferivikasi justru bisa menularkan virus corona itu.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Ika Nur Cahyani
zoom-in Pakar Inggris Tegaskan, Asal Lakukan Tes Antibodi Bisa Berisiko Penularan Covid-19
TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Petugas Bio Farma mengambil sampel darah pasukan gorong-gorong dan kebersihan (Gober) Kota Bandung pada Gebyar Vaksinasi Hepatitis B untuk Petugas Gober Se-Kota Bandung dalam rangka HUT ke-127 Bio Farma di Gedung PT Bio Farma, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Kamis (3/8/2017). Pemberian vaksin hepatitis B kepada 2.200 pasukan Gober se-Kota Bandung itu dimaksudkan untuk menimbulkan kekebalan spesifik (antibodi) sehingga dapat menangkal infeksi yang disebabkan oleh virus Hepatitis B, yang menyerang organ hati. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

Bahkan bisa jadi orang yang membawa virus menularkannya pada yang lebih rentan.

"Kepala petugas medis juga mengatakan dia sangat tidak menyarankan penggunaan tes yang tidak divalidasi dan bahwa, untuk saat ini, pedoman jarak sosial terus berlaku untuk semua orang."

Untuk itu, pemerintah Inggris sedang memantau beberapa perusahaan yang menawarkan tes virus corona dan sedang mengevaluasi efektivitasnya.

Akan tetapi belum ada yang terbukti cukup akurat dan bisa diluncurkan untuk penggunaan umum.

Baca: Pakar Sebut Tes PCR Lebih Akrurat Identifikasi Covid-19: Periksa Virus Bukan Antibodi

Baca: Ilmuwan China Klaim Temukan Antibodi yang Efektif untuk Bentengi Badan dari Covid-19

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa tidak ada bukti orang yang pernah menderita Covid-19 tidak dapat terinfeksi lagi.

Hingga Sabtu (18/4/2020), dunia sudah mencatatkan 2.275.782 kasus infeksi Covid-19.

Sejumlah 156.104 orang tercatat sebagai korban jiwa atas pandemi ini.

Rekomendasi Untuk Anda

Sedangkan 582.443 orang berhasil sembuh dari virus ini.

Amerika Serikat masih menduduki posisi pertama tingkat infeksi dan kematian terbesar di dunia.

(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas