Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Lokasi Wisata Disarankan Ikut Ditutup Seiring Ada Larangan Mudik Lebaran 2021

Pemerintah melarangan mudik lebaran tahun 2021 guna memutus rantai penyebaran Covid-19.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Lokasi Wisata Disarankan Ikut Ditutup Seiring Ada Larangan Mudik Lebaran 2021
Tribunnews/Irwan Rismawan
Ilustrasi mudik lebaran. 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Willy Widianto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah memutuskan pelarangan mudik lebaran tahun 2021 guna memutus rantai penyebaran Covid-19.

Selain larangan mudik seharusnya lokasi wisata ditutup.

Kalau perlu ada penerapan sanksi terhadap lokasi wisata yang masih nekat buka saat Idul Fitri 2021 nanti.

"Sistem sanksi bagi pengelola dan denda misalnya bagi pengunjung bisa diterapkan untuk menjamin itu," kata Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman dalam pernyataannya, Rabu(14/4/2021).

Baca juga: Hukum Suntik Vaksin Covid-19 di Siang Hari Bulan Ramadhan, MUI: Tidak Batalkan Puasa

Kata Dicky, pemerintah juga bisa membangun narasi bahwa kehadiran fisik bisa merugikan atau membahayakan.

Dia berpendapat, masyarakat bisa mengirimkan makanan atau benda ke keluarga di kampung halaman tanpa melakukan mudik.

Rekomendasi Untuk Anda

"Gunakan juga keterlibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, selain pemerintah sendiri pejabat publiknya memberikan contoh langsung nyata bahwa dia tidak pulang kampung. Karena mencegah sama sekali sulit. Yang harus dilakukan adalah membangun kesadaran dan meminimalisir risiko," jelas Dicky.

Baca juga: Menkes Budi: 400 Miliar Dialokasikan untuk Pengembangan Vaksin Covid-19 Dalam Negeri

Dia berpendapat, pemerintah daerah seharusnya berperan mencegah masyarakat mudik.

"Pemerintah daerah juga berperan dalam imbauan kepada warganya yang merantau, memberikan pesan pada yang tidak bisa mudik," tuturnya.

Menurut Dicky bahwa tidak terlihat bukan berarti tidak ada kasus.

"Ini yang harus dipahami. Apalagi sekarang ada strain baru begitu cepat menular, bukan berarti tidak terjadi infeksi penularan ketika arus mobilisasi relatif tinggi, itu tetap terjadi," kata Dicky.

Menurut Dicky, pemerintah bisa memperkuat regulasi untuk mencegah banyaknya masyarakat yang ngotot mudik Lebaran.

Baca juga: Ilmuwan Pentagon Kembangkan Microchip yang Bisa Deteksi Covid-19, Ditanam di Bawah Kulit

"Misalnya perkantoran, ASN, BUMN, BUMD, perusahaan-perusahaan juga diimbau untuk tidak mudik, kecuali lebih banyak sifatnya stafcation aja," ujar Dicky.

Pendapat serupa juga dilontarkan Ahli Penyakit Tropik dan Infeksi dr Erni Juwita Nelwan.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas