Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Polemik Vaksin Nusantara

Eks Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari Ungkap Alasan Jadi Relawan Vaksin Nusantara Buatan Terawan

Siti Fadilah Supari menjadi relawan dalam penelitian vaksin Nusantara yang diinisiasi Terawan Agus Putranto di RSPAD Gatot Soebroto.

Eks Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari Ungkap Alasan Jadi Relawan Vaksin Nusantara Buatan Terawan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. 

Selain itu, mantan Menteri Kesehatan era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu mengakui ia memiliki komorbid dan usia sudah 70 tahun, sehingga tidak bisa menerima vaksin Covid-19 yang sudah ada.

“Saya memang tidak bisa divaksin dengan vaksin yang ada. Karena saya punya komorbid. Begitu ada alternatif vaksin Nusantara itu, saya tertarik,” jelasnya.

Baca juga: Satgas Covid-19: Izin Penggunaan Darurat EUL dan EUA Dikeluarkan Atas Pertimbangan yang Sama

"Selain juga saya mau tahu hasilnya bagaimana secara langsung. Jadi saya ikut jadi relawan," kata dia.

Dia menjelaskan dirinya sudah diambil sampel dari dalam uji klinis tahap II vaksin Nusantara beberapa hari lalu.

Sampel darah itu akan diolah hingga satu pekan ke depan dan kemudian akan disuntikkan kembali ke tubuhnya pada hari kedelapan.

Sebagaimana diketahui, BPOM belum mengeluarkan izin Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) fase II vaksin Nusantara dikarenakan hasil uji klinik fase I belum memenuhi standar pembuatan vaksin.

Namun, sejumlah anggota DPR dan tokoh tetap mendatangi RSPAD Gatot Soebroto untuk menjadi relawan vaksin Nusantara.

Wakil Ketua Komisi IX DPR Melki Laka Lena membenarkan bahwa tidak hanya dirinya yang menjadi relawan Vaksin Nusantara.

Ia menyebut beberapa nama di Komisi IX yang sepengetahuannya juga turut serta diambil sampel darahnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto pada Rabu (14/4/2021).

"Ada saya, Pak Saleh (Saleh Daulay), Bu Ninik (Nihayatul Wafiroh), Bu Arzeti (Arzeti Bilbina), Bu Saniatul (Saniatul Lativah), Bu Meliyana (Sri Meliyana), Pak Anas (Anas Thahir)," kata Melki melalui pesan singkat seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis (15/4/2021).

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Adi Suhendi
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas