Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
TribunNews | PON XX Papua
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Virus Corona

Kasus Negatif Palsu Pasien Covid-19, Ketahui Faktor Penyebabnya

Munculnya kasus negative false atau hasil tes negatif palsu pasien Covid-19 diakui Kepala Humas Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI).

Kasus Negatif Palsu Pasien Covid-19, Ketahui Faktor Penyebabnya
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Satgas Covid-19 kembali melakukan penelusuran atau tracing dengan swab PCR kepada warga sekitar Taman Pintar Kayu Putih, Jakarta Timur, Selasa (8/6/2021). Sebelumnya satgas sudah melakukan tracing kepada 48 warga dengan hasil negatif, pihak Polsek Pulogadung juga telah melakukan vaksinasi Covid-19 kepada warga. Tracing terus ditingkatkan oleh pemerintah untuk mengetahui penyebaran Covid diantara warga dan antisipasi Covid-19 varian baru. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Munculnya kasus negative false atau hasil tes negatif palsu pasien Covid-19 diakui Kepala Humas Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Anjari Umarjianto.

Beberapa kasus ditemukan adanya pasien Covid-19 yang menunjukkan hasil PCR negative pada awal-awal pemeriksaan.

“Karena itu jika ada pasien dengan gejala mengarah Covid-19 tetapi hasil pemeriksaan PCR ternyata negatif, harus diulang beberapa hari kemudian,” kata Anjari dalam keterangannya, Minggu (25/7/2021).

Tetapi, lanjut Anjari bukan berarti metode PCR-nya error.

Ketua Umum IDI Daeng M Faqih, mengatakan dalam kasus hasil tes negatif palsu pasien Covid-19, ada banyak faktor yang mempengaruhinya.

Baca juga: Epidemiolog Peringatkan Soal Puncak Kasus Infeksi Covid-19 di Indonesia

Baca juga: Update Corona di Indonesia 25 Juli 2021: Kasus Positif Covid-19 Bertambah 38.679, Meninggal 1.266

Satu di antaranya adalah belum terbentuknya zat antibody (masa inkubasi virus) pada saat pemeriksaan dilakukan.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB Jakarta, Kamis (16/4/2020).
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB Jakarta, Kamis (16/4/2020). (DOKUMENTASI BNPB)

Menurutnya, PCR atau polymerase chain reaction adalah metode deteksi virus Covid-19 yang paling akurat saat ini.

Semua rumah sakit anggota PERSI yang menjadi rujukan Covid-19 menggunakan metode ini untuk menentukan status pasien yang diduga Covid-19.

Anjari menjelaskan untuk menjadi rumah sakit rujukan Covid-19, sebuah rumah sakit harus melalui seleksi yang ketat.

Halaman
123
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas