Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Ahli Epidemiolog Sebut Indonesia Punya Banyak PR soal Penerapan Protokol Kesehatan usai PPKM Dicabut

Ahli Epidemiologi, Dicky Budiman menilai Indonesia masih memiliki banyak PR setelah adanya PPKM karena situasi masih rawan dan berisiko.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Rifqah
zoom-in Ahli Epidemiolog Sebut Indonesia Punya Banyak PR soal Penerapan Protokol Kesehatan usai PPKM Dicabut
WARTA KOTA/WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Ahli Epidemiologi, Dicky Budiman menilai Indonesia masih memiliki banyak PR setelah adanya PPKM karena situasi masih rawan dan berisiko. 

TRIBUNNEWS.COM - Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menilai Indonesia masih memiliki banyak PR setelah adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), karena situasi masih rawan.

PR yang perlu diterapkan tersebut, kata Dicky adalah tentang membuat masyarakat Indonesia mandiri dalam menerapkan protokol kesehatan.

Sebelumnya diketahui bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi mengumumkan PPKM dicabut per hari Jumat (30/12/2022) lalu melalui Live Konferensi Pers Channel YouTube Sekretariat Negara.

"Pada hari ini, pemerintah memutuskan untuk mencabut PPKM yang tertuang dalam Instruksi Mendagri Nomor 50 dan 51 Tahun 2022."

"Jadi, tidak ada lagi pembatasan kerumunan dan pergerakan masyarakat," kata Jokowi.

Baca juga: Mendagri Minta Kepala Daerah Tetap Imbau Masyarakat Waspada Penyebaran Covid-19 Meski PPKM Dicabut

Dicky menegaskan, wabah Covid-19 yang masih ada ini perlu diintervensi karena situasi yang masih rawan dan berpotensi terburuk.

"Ketika kita benar-benar angkat itu dan sebebas-bebasnya, ini loss ya dan rawan sekali."

Rekomendasi Untuk Anda

"Karena kan situasinya masih pandemi. Situasinya masih wabah yang memerlukan adanya intervensi PHSM (public health and social measures)," ungkap Dicky, Minggu (1/1/2023).

Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman. Ahli Epidemiologi, Dicky Budiman menilai Indonesia masih memiliki banyak PR setelah adanya PPKM karena situasi masih rawan dan berisiko.
Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman. Ahli Epidemiologi, Dicky Budiman menilai Indonesia masih memiliki banyak PR setelah adanya PPKM karena situasi masih rawan dan berisiko. (dok pribadi)

Menurut Dicky sendiri, pemerintah harus mengganti PPKM.

Jadi, tidak hanya sekadar mencabutnya saja.

Lantaran soal penggunaan masker, vaksinasi Covid-19 hingga sanitasi masih diperlukan di Indonesia.

Seharusnya kesadaran masyarakat untuk memakai masker, cuci tangan, dan vaksin sudah terbangun sejak PPKM berlangsung.

Baca juga: Meski Resmi Dicabut, PPKM Diterapkan Lagi Jika Kasus Covid-19 Melonjak

Namun, pada kenyataannya masih banyak yang tidak menyadari betapa pentingnya hal-hal tersebut.

Dicky pun menjadi khawatir akan kesadaran masyakarat Indonesia dalam menerapkan protokol kesehatan semakin memburuk setelah PPKM dicabut.

"Nah ini kan banyak yang belum (menyadari). Kalau bicara masker, banyak masyarakat yang bahkan enggak mau pakai masker," ungkapnya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas