Tribun

Forum COP26, Sultan Tegaskan Peran Penting Mayarakat Adat Dalam Perlindungan Kawasan Hutan

Konferensi Tingkat Tinggi perubahan iklim COP26 baru-baru saja berlangsung. Perhelatan ini menindaklanjuti Perjanjian Paris 2015 yang belum optimal.

Editor: Content Writer
Forum COP26, Sultan Tegaskan Peran Penting Mayarakat Adat Dalam Perlindungan Kawasan Hutan
Istimewa
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI Sultan B. Najamudin menjadi salah satu pembicara dalam sesi yang membahas peran pelaku bisnis dan pengelolaan hutan dengan tema Support to smallholder to Sustainable Forest and Agriculture Commodity Trade yang diselenggarakan di Pavillion Indoneaia Glasgow COP26 oleh UNFCCC, Climate Change Convention pada Senin, (8/11/2021). 

Kita perlu mengubah "ambisi nasional" menjadi "tindakan kolektif global" dalam memanfaatkan momen ini untuk mengatur ulang titik keseimbangan, dan mempercepat transisi ke masa depan yang lebih berkelanjutan, adil, positif terhadap hutan serta komoditas perdagangan kehutanan.

Sultan pun mengajak semua lembaga parlemen dunia untuk turut berkontribusi secara aktif dengan merumuskan kebijakan perundangan-undangan terkait perubahan iklim.

"Dalam suasana penuh kehangatan dan persahabatan COP26 ini DPD RI ingin mengajak semua Lembaga parlemen negara-negara sahabat peserta COP26 untuk mengahadirkan gagasan dan solusi alternatif terhadap krisis semesta ini melalui forum tingkat tinggi inter-parliamentary meeting", ajak Sultan.

Keterlibatan Lembaga legislative yang berkolaborasi Bersama NGO dan organisasi pemerhati lingkungan dalam agenda ini, terangnya, akan memberikan determinasi dan akselerasi bagi capaian-capaian pada target iklim yang seimbang dalam jangka Panjang.

"DPD RI akan memulainya dengan berupaya memformulasikan Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Perubahan Iklim. RUU yang akan kami susun secara inklusif, komprehensif, intergratif dan holistic, dan diharapkan mampu menjadi tawaran kebijakan yang bisa diadopsi oleh semua negara", tambahnya.

Sebagai penutup, mantan ketua HIPMI bengkulu ini mengajak para pelaku bisnis dunia untuk memperhatikan aktivitas pertanian dan kehutanan para petani kecil di banyak negara berkembang.

"Tentu menjadi harapan besar kita semua, bahwa setelah melewati forum yang bermartabat ini, Perhatian para pemimpin dunia dan pelaku industri global akan dialihkan sejenak kepada keberadaan hutan hujan tropis dan nasib petani kecil di banyak negara berkembang, atau dalam jangka panjang dunia akan kehilangan ratusan jenis rempah dan commodity trade lainnya di pasar global," harapnya.

  Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas