Tribun

LaNyalla Kagumi Perjuangan Para Dokter Sejak Kemerdekaan

Lanyalla menegaskan nasionalisme dokter tidak perlu untuk diragukan karena lahirnya negara ini juga mencatat keterlibatan aktif para dokter

Editor: Content Writer
zoom-in LaNyalla Kagumi Perjuangan Para Dokter Sejak Kemerdekaan
DPD RI
LaNyalla Mattalitti memberikan Kuliah Umum Muktamar IDI ke-31 dengan tema "Nasionalisme Dalam Tubuh Dokter Indonesia Sebagai Dasar Ketahanan Nasional", di Banda Aceh, Jumat (25/3/2022). 

TRIBUNNEWS.COM, ACEH - Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyampaikan kekagumannya pada nasionalisme dokter-dokter Indonesia, saat mengisi kuliah umum di Muktamar IDI ke-31, di Banda Aceh Convention Hall, Jumat (25/3/2022).

Menurut LaNyalla, perjuangan para dokter sudah berlangsung sejak era perjuangan kemerdekaan hingga sekarang, terutama saat negeri ini dilanda pandemi Covid-19.

"Terus terang saya bangga, berbicara di depan para Pejuang Kesehatan Indonesia. Yang selama dua tahun Pandemi Covid telah berjibaku, hingga tidak sedikit dokter dan petugas medis yang mendahului kita dalam masa penanganan Pandemi Covid-19. Insya Allah mereka mendapat tempat yang layak," ujar LaNyalla.

Ditegaskannya, nasionalisme dokter tidak perlu untuk diragukan. Sebab, sejarah lahirnya negara ini juga mencatat keterlibatan aktif dokter-dokter pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Setidaknya ada 5 nama besar, dokter Indonesia yang terlibat dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

"Pasti kita sudah tahu, ke-5 nama dokter yang tercatat dalam tinta emas sejarah kemerdekaan kita yaitu dokter Wahidin Soedirohoesodo, dokter Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter Soetomo, dokter Radjiman Wedyodiningrat dan dokter Moestopo," papar LaNyalla dalam kuliah Umum bertema ‘Nasionalisme Dalam Tubuh Dokter Indonesia Sebagai Dasar Ketahanan Nasional’.

Begitu pula dengan negara lain. Mereka juga punya dokter yang tercatat dalam sejarah mereka. Seperti dokter Sun Yat Sen (China), dokter Jose Rizal (Filipina), dokter Frantz Fanon (Aljazair), dokter George Habbash (Palestina), dan dokter Ramon Betances (Puerto Rico), serta nama-nama lain di belahan dunia ini.

“Melalui fakta sejarah itu, kita melihat bahwa para dokter turut berperan dalam menjawab persoalan bangsa di zamannya. Seperti yang dilakukan dokter-dokter Stovia di Indonesia saat itu,” papar dia.

Para Dokter Stovia, lanjutnya, muncul sebagai kelompok pertama yang mengharapkan perubahan dibanding kelompok-kelompok profesi lainnya.

Karena mereka melihat bahwa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada saat itu tidak menyelenggarakan sistem pelayanan kesehatan, sehingga mengakibatkan penderitaan rakyat.

Halaman
12
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas